KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di level 6.723,32 pada Rabu (13/5/2026), merosot dari posisi pekan sebelumnya di 6.936,39. Penurunan indeks ini diikuti oleh koreksi di hampir seluruh indikator pasar. Rata-rata nilai transaksi harian anjlok 18,78% menjadi Rp 18,82 triliun, sementara volume transaksi harian tergerus 22,01% menjadi 35,76 miliar lembar saham.
MSCI Jadi Pemicu, Bukan Satu-satunya Penyebab
Pemicu utama koreksi adalah pengumuman MSCI yang mengeluarkan 18 emiten tanah air dari indeks Global Small Cap. Langkah ini lazimnya diikuti oleh aksi jual dari dana asing yang portofolionya terpaut dengan indeks tersebut. Namun, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, justru menilai pengumuman ini sebagai katalis positif jangka pendek.
"Ini mengurangi ketidakpastian di pasar di tengah volatilitas global," ujar Jeffrey. Ia menambahkan, keluarnya saham-saham tersebut dari indeks small cap justru membuka peluang bagi emiten yang sama untuk naik kelas ke indeks MSCI yang lebih tinggi, meskipun prosesnya masih tertunda akibat kebijakan pembekuan dari lembaga penyedia indeks global itu.
Aksi Jual Asing Membengkak, Akumulasi 2026 Tembus Rp 40 Triliun
Tekanan jual dari investor non-residen terlihat nyata. Sepanjang perdagangan Rabu (13/5), net foreign sell tercatat sebesar Rp 1,531 triliun. Angka ini membuat akumulasi aksi jual bersih asing sepanjang 2026 membengkak menjadi Rp 40,823 triliun.
Beban jual asing ini menjadi sinyal yang perlu dicermati pelaku pasar. Meskipun BEI optimistis soal prospek rebalancing indeks, arus modal asing yang keluar secara konsisten bisa menjadi hambatan bagi pemulihan IHSG dalam waktu dekat.
Kapitalisasi Pasar Terkoreksi, Frekuensi Transaksi Menyusut
Selain nilai dan volume transaksi, frekuensi perdagangan harian juga ikut melambat. Rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini turun 0,56% menjadi 2,53 juta kali. Kapitalisasi pasar BEI pun ikut tergerus 4,68% dari Rp 12.406 triliun menjadi Rp 11.825 triliun.
Kombinasi penurunan harga dan menyusutnya likuiditas ini menandakan investor cenderung wait and see. Sentimen eksternal, terutama sikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik, masih menjadi faktor dominan yang membayangi bursa Indonesia.