PONTIANAK — Laporan Tren Pendidikan Tinggi Global pertama yang dirilis UNESCO, Selasa (12/5), mencatatkan lonjakan jumlah mahasiswa global yang signifikan. Kendati total pendaftar naik lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade, data dari 146 negara menunjukkan ketimpangan regional dan gender masih menjadi pekerjaan rumah besar.
80 Persen Pemuda di Eropa vs 9 Persen di Afrika Sub-Sahara
Kesenjangan paling mencolok terlihat pada angka partisipasi kasar. Di Eropa Barat dan Amerika Utara, delapan dari sepuluh anak muda tercatat sebagai mahasiswa. Sebaliknya, di Afrika sub-Sahara, angka itu anjlok ke level 9 persen. Artinya, mayoritas generasi muda di kawasan tersebut nyaris tidak memiliki akses ke bangku kuliah.
Laporan itu juga menyebut hanya 3 persen mahasiswa dunia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Angka ini menunjukkan mobilitas akademik global masih sangat terbatas dan didominasi negara-negara tertentu.
Perempuan Dominasi S1, Tapi Tersingkir di Puncak Akademik
Ketimpangan gender juga terdeteksi di jenjang pendidikan tinggi. Meski jumlah mahasiswa perempuan meningkat, representasi mereka di tingkat doktoral dan posisi puncak akademik masih timpang. UNESCO mencatat perempuan hanya mengisi sekitar seperempat kursi kepemimpinan di dunia akademik global.
Kondisi ini menunjukkan adanya hambatan struktural yang menghalangi perempuan untuk naik ke jenjang karier tertinggi di universitas dan lembaga riset.
Pengungsi Terhambat Dokumen, UNESCO Luncurkan Paspor Kualifikasi
Hambatan lain yang disorot adalah ketiadaan dokumen akademik bagi para pengungsi. Banyak dari mereka, terutama di negara-negara Global South, tidak memiliki ijazah atau transkrip nilai yang terverifikasi. Akibatnya, akses ke pendidikan tinggi pun tertutup.
Untuk mengatasi masalah ini, UNESCO memperkenalkan Paspor Kualifikasi (Qualifications Passport). Alat ini dirancang untuk mengakui kualifikasi akademik, profesional, dan vokasional para pengungsi serta orang-orang yang terpaksa mengungsi. “Ini adalah langkah konkret untuk memastikan krisis kemanusiaan tidak merampas hak belajar,” tulis laporan tersebut.
Data Global Jadi Peringatan bagi Pemerataan Akses di Indonesia
Temuan UNESCO ini menjadi pengingat bagi Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, bahwa pertumbuhan jumlah mahasiswa saja tidak cukup. Pemerataan akses antarwilayah, afirmasi gender di level akademik tinggi, serta inklusi bagi kelompok rentan seperti pengungsi dan masyarakat adat masih perlu terus diperjuangkan.