SINGKAWANG — Pemerintah pusat tidak main-main dalam mengejar target penyelesaian Sekolah Rakyat (SR) di Kota Singkawang. Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Herzaky Mahendra Putra, mengungkapkan progres pembangunan kompleks pendidikan tersebut sudah mencapai 58 persen pada awal Mei 2026.
Dengan rata-rata perkembangan pekerjaan di atas 2,5 persen per hari, optimisme tinggi untuk merampungkan proyek tepat pada 20 Juni 2026.
"Berdasarkan hasil peninjauan, progres pembangunan sudah mencapai 58 persen. Dengan perkembangan pekerjaan yang rata-rata berada di atas 2,5 persen per hari, kami optimistis target penyelesaian pada 20 Juni dapat tercapai," ujar Herzaky dalam keterangan yang dikutip dari Antara, Senin (8/5/2026).
Tambahan 400 Pekerja untuk Percepatan
Untuk memastikan target tercapai, pemerintah menambah jumlah tenaga kerja di lapangan secara signifikan. Awalnya 900 orang, kini menjadi 1.300 pekerja yang dikerahkan setiap hari.
Herzaky mengapresiasi dedikasi para pekerja yang menjadi kunci percepatan ini. "Dedikasi pekerja menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung percepatan pembangunan Sekolah Rakyat," sambungnya.
Kompleks Pendidikan Terintegrasi dengan Asrama
Sekolah Rakyat Singkawang dirancang bukan sekadar gedung sekolah biasa. Kompleks ini akan menjadi kawasan pendidikan terintegrasi dengan sistem asrama, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan.
Fasilitas yang dibangun meliputi ruang kelas, laboratorium, gedung serbaguna, serta sarana olahraga seperti lapangan sepak bola dan jogging track. Total kapasitas kompleks ini mencapai 1.200 siswa, ditambah tenaga pengajar, wali asuh, dan perangkat pendidikan lainnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sempat meninjau langsung proyek ini pada Maret 2026. Anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan SR di Kalimantan Barat mencapai kurang lebih Rp 750 miliar.
Siapa yang Bisa Masuk Sekolah Rakyat?
Sekolah Rakyat dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga miskin hingga miskin ekstrem. Proses seleksi tidak dibuka secara umum, melainkan berbasis data.
Calon murid harus berasal dari desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Desil 1 adalah kelompok 10 persen termiskin, sementara desil 2 adalah kelompok 11-20 persen terendah.
Setelah memenuhi kriteria data, petugas dari Kemensos akan melakukan survei lapangan ke rumah calon murid. Data diverifikasi bersama dinas sosial setempat untuk memastikan kebenaran kondisi ekonomi keluarga.
"Ada pendamping yang datang ke sana atau relawan, kemudian kerja sama dengan dinas sosial setempat, untuk memastikan bahwa datanya ini benar," jelas Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam arsip pemberitaan sebelumnya.
Jika dinyatakan lolos seleksi administrasi dan menyatakan bersedia, murid akan langsung bersekolah di Sekolah Rakyat sesuai wilayahnya masing-masing.