Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menutup secara resmi Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sebanyak 426 mahasiswa diterjunkan selama satu bulan penuh di Kecamatan Jelimpo, Ngabang, Sengah Temila, dan Mandor. Karolin menekankan pengalaman lapangan menjadi jembatan penting antara teori akademik dan dinamika nyata di masyarakat desa.
LANDAK — Sebanyak 426 mahasiswa FISIP Untan Pontianak resmi ditarik dari lokasi KKM di Kabupaten Landak setelah menjalani pengabdian selama satu bulan penuh. Penutupan sekaligus penjemputan mahasiswa itu dilakukan langsung oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, di hadapan para peserta dan jajaran akademisi.
Karolin menyebut keterlibatan mahasiswa di desa-desa merupakan momentum untuk menguji kesesuaian antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan realitas sosial yang berjalan di tengah masyarakat.
"KKM ini menjembatani antara teori, buku, dengan kenyataan di lapangan. Dan seharusnya itu dua hal yang tidak boleh saling bertentangan," ujar Karolin dalam sambutannya.
Bekal Bonus Demografi 2035
Di hadapan ratusan mahasiswa, Karolin mengingatkan pentingnya mengasah kemampuan keras maupun kemampuan lunak. Menurutnya, persaingan global menuntut generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap perubahan.
Ia mengaitkan hal itu dengan proyeksi puncak bonus demografi yang akan terjadi pada 2035 mendatang. Karolin berharap mahasiswa mampu menjadi generasi emas, bukan generasi yang justru diliputi kecemasan menghadapi masa depan.
"Harapan kita pada anak-anak muda melalui Universitas Tanjungpura, semoga bisa melanjutkan karyanya menempa anak-anak muda kita agar menjadi generasi emas di masa yang akan datang, bukan menjadi generasi cemas," tuturnya.
Kritik Sentralisasi Kewenangan ke Pusat
Di luar agenda akademik, Karolin turut menyoroti persoalan pembangunan daerah yang kian terhambat akibat kebijakan penarikan kewenangan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat. Ia menilai kebijakan tersebut berdampak langsung pada pelayanan publik dasar di wilayah pelosok.
"Ketika semua ditarik ke pusat, terpusat, tersentral, satu komando, kebutuhan daerah menjadi tidak terpetakan dengan baik dan juga tidak dapat terpenuhi sesuai dengan kondisi daerah," tegas Karolin.
Kepala Desa Menangis Ditinggal Mahasiswa
Ketua Panitia KKM FISIP Untan 2026, Haunan Fachry Rohilie, mengungkapkan salah satu tolok ukur keberhasilan program ini adalah reaksi emosional masyarakat saat mahasiswa harus kembali ke kampus. Ia menceritakan sejumlah kepala desa merasa kehilangan setelah ditinggal para peserta KKM.
"Salah satu tolok ukur keberhasilan KKM, apakah kemudian masyarakat atau pemerintah desa itu menangis atau bahagia ditinggal oleh mahasiswa KKN. Ada yang sampai kepala desanya pun bersedih karena ditinggalkan oleh adik-adik KKN," kata Haunan saat menyampaikan laporan panitia.
Ia berharap kolaborasi antara universitas dan pemerintah daerah tidak berhenti di sini. Menurutnya, program pengabdian lain bisa menjadi fondasi kemitraan jangka panjang.
"Semoga ini bukan pertama, bukan terakhir kita bekerja sama, tapi menjadi fondasi untuk melangsungkan kolaborasi dalam bidang-bidang yang lainnya," tambah Haunan.
Dosen: Kami yang Belajar dari Masyarakat
Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP Untan, Viza Juliansyah, yang hadir mewakili dekan, menilai keterlibatan langsung di desa memberi pelajaran yang tidak akan pernah didapat mahasiswa di dalam ruang kelas. Ia justru merasa pihak kampus yang lebih banyak menerima pembelajaran dari masyarakat.
"Yang sesungguhnya adalah kita yang sering kali lebih banyak belajar daripada dari masyarakat," ungkap Viza di hadapan para peserta dan jajaran pejabat daerah.
Viza berpesan agar seluruh mahasiswa menjaga nama baik almamater hingga masa penugasan benar-benar usai. Pengalaman lapangan yang mereka bawa pulang, kata dia, menjadi bekal untuk membuktikan bahwa dunia nyata menuntut aksi, bukan sekadar teori.
"Mudah-mudahan itu jadi bekal bagi adik-adik untuk menunjukkan bahwa di dunia nyata kita tidak cuma butuh teori, tapi juga aksi nyata," pungkasnya.