PONTIANAK — Sebaran titik panas tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat tidak merata. Selain 37 titik di Ketapang, BMKG mendeteksi tiga titik di Sanggau, tiga titik di Sintang, dua titik di Melawi, serta masing-masing satu titik di Landak dan Sekadau. Kabupaten/kota lain dilaporkan nihil titik panas tingkat kepercayaan tinggi.
Ridwan mengatakan data terbaru justru menunjukkan penambahan sebaran. "Untuk data pada hari ini (Kamis), terlihat ada kenaikan sedikit lagi untuk sebaran titik panas tingkat kepercayaan tinggi," kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla Kalbar, Kamis (1/10).
Pantauan Tiga Satelit Sipongi Tunjukkan Peningkatan
Data BMKG berbeda dengan pantauan Sipongi yang menggunakan tiga satelit: Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA. Satelit Terra/Aqua mendeteksi 16 titik panas tingkat kepercayaan tinggi, SNPP mendeteksi 19 titik, dan NOAA satu titik.
Menurut Ridwan, Sipongi juga menemukan titik panas di sejumlah kabupaten yang sebelumnya terkategori aman. Sanggau, Sekadau, Landak, dan Sintang mulai memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah maupun tinggi.
Jarak Pandang di Ketapang dan Sintang Masih Pendek
Kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalbar berangsur membaik. Di Kubu Raya, jarak pandang pada periode pukul 18.00 WIB 30 September hingga pukul 06.00 WIB 1 Oktober berada di kisaran dua hingga lima kilometer. Kota Pontianak tercatat satu hingga lima kilometer.
Jarak pandang lebih dari lima kilometer terpantau di Kota Singkawang dan Kabupaten Sambas sejak pukul 07.00 WIB 30 September hingga pukul 06.00 WIB 1 Oktober. "Untuk Kabupaten Ketapang terlihat tadi di pukul 06.00 hanya berjarak pandang satu setengah kilometer, dan untuk Kabupaten Sintang ini berjarak pandang hanya sejauh satu kilometer," jelasnya.
Kapuas Hulu dan Mempawah juga menunjukkan perbaikan jarak pandang. Ridwan berharap kondisi tersebut bertahan hingga malam hari.
Ketapang Berpotensi Kering hingga Sepekan ke Depan
Berdasarkan data BMKG pada 1 Oktober, potensi hujan ringan hingga menengah terlihat di Kabupaten Sambas dan wilayah perhuluan. Kondisi berbeda diperkirakan terjadi di Ketapang dan Kayong Utara.
Data potensi curah hujan hingga 7 Oktober menunjukkan potensi hujan di kedua wilayah tersebut mulai rendah. "Kami agak khawatirkan tadi untuk Kabupaten Ketapang, karena kalau dilihat dari potensi hujan yang ada di kabupaten ini, mulai tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober nanti sudah mulai terlihat tidak ada lagi potensi hujan," ujarnya.
Meski demikian, Ridwan menyebut data tersebut masih dapat berubah. Potensi pertumbuhan awan hujan di Ketapang masih cukup tinggi, lebih dari 70 persen, sehingga membuka peluang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pelaksanaan OMC tetap menunggu rekomendasi data dari BMKG.
"Semoga dari data ini kita bisa melakukan OMC untuk wilayah Ketapang, dan untuk waktu-waktu ke depan juga kalau potensi pertumbuhan awan di kabupaten tersebut cukup bagus, operasi OMC dapat kami lakukan," katanya.
Water Bombing dan Patroli Udara Diperkuat
BPBD Kalbar bersama Manggala Agni, TNI-Polri, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta perangkat daerah lainnya memperkuat penanganan melalui Satgas Udara dan Satgas Darat. Satgas Udara menurunkan dua patroli pada Kamis (1/10).
Patroli pertama diarahkan ke Ketapang bagian selatan, patroli kedua ke Ketapang bagian utara sekaligus Kayong Utara. Helikopter lainnya bergerak ke Kubu Raya dan Kayong Utara, lalu ke Kubu Raya, Landak, Sanggau, dan Sekadau.
Water bombing dilakukan dari Base Lanud Supadio. Sortie pertama menyasar Desa Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, berdasarkan permintaan Satgas Darat. Water bombing berikutnya diarahkan ke Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang.