Pencarian

Petani Durian Thailand Pakai AI dan IoT Jaga Kualitas demi Ekspor ke China

Minggu, 04 Oktober 2026 • 15:22:31 WIB
Petani Durian Thailand Pakai AI dan IoT Jaga Kualitas demi Ekspor ke China
Petani durian di Chanthaburi, Thailand, memanfaatkan kamera dan sensor untuk memantau kondisi pohon secara digital.

KALIMANTAN BARAT — Lebih dari 10 ribu petani durian di Thailand kini mengadopsi AI dan IoT untuk menjaga kualitas buah, terutama guna memenuhi standar ekspor ke China. Di Chanthaburi, petani Nuttawoot Chanrueng melengkapi kebunnya dengan kamera, sensor, dan sistem data yang sebagian besar berasal dari China. Langkah ini diambil ketika nilai ekspor durian Thailand ke China menembus hampir US$3,79 miliar pada paruh pertama 2026.

Teknologi yang dipakai Chanrueng memungkinkan setiap pohon memiliki catatan digital tentang kondisi pertumbuhannya. Sensor dan kamera bekerja sepanjang waktu, sementara kecerdasan buatan membantu mendeteksi masalah lebih awal dan memperkuat kemampuan pelacakan.

Pendekatan itu mengubah cara bertani yang sebelumnya bertumpu pada pengalaman dan pengamatan menjadi data numerik yang bisa dipantau dan dianalisis. Chanrueng menyebut perubahan ini bukan berarti meninggalkan metode lama.

"Kami mengamvil kearifan orang tua kami, kami tidak meninggalkan mereka. Kami mengadaptasi metode mereka agar sesuai dengan kebutuhan kami," ujar Chanrueng.

"Kami mengamati bagaimana mereka mengelola berbagai hal dan mengubahnya menjadi data numerik yang jelas, yang semuanya dapat ditampilkan dalam grafik," tambah dia.

Mengapa Petani Thailand Melirik Teknologi China

Chanrueng mengatakan teknologi China menarik bagi petani durian Thailand karena biayanya terjangkau, mudah diakses, dan mudah digunakan. Solusi yang ditawarkan juga siap pakai sehingga bisa diintegrasikan dengan AI secara bertahap.

Ketergantungan pada perangkat China ini sejalan dengan posisi negara itu sebagai pasar durian terbesar Thailand. Nilai ekspor durian Thailand ke China mencapai hampir US$3,79 miliar pada paruh pertama 2026.

Persaingan yang makin ketat dan syarat mutu yang semakin tinggi membuat Thailand beralih ke AI dan teknologi lain. Tujuannya satu: menjaga konsistensi rasa durian agar tetap diterima pasar China.

AI Mulai Dipakai Menilai Kematangan Durian

Perusahaan swasta di Thailand juga mulai menggunakan AI untuk menilai kematangan durian. Para peneliti tengah mengembangkan sistem yang dapat menentukan kematangan buah tanpa harus membelahnya.

Inisiatif Durian Digital Thailand telah membantu lebih dari 10 ribu petani mengadopsi teknologi di perkebunan mereka. Program ini mencakup pencatatan budidaya digital, manajemen air cerdas, dan sejumlah sistem pendukung lain.

Dampak ke Rantai Pasok dan Perdagangan

Adopsi AI dan IoT di kebun durian berpotensi memangkas risiko gagal panen akibat hama atau cuaca. Bagi pembeli di China, data budidaya digital membuka peluang pelacakan asal buah secara lebih rinci.

Thailand tidak sendiri dalam perlombaan ini. Negara produsen durian lain di Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Malaysia, juga berupaya menembus pasar China dengan standar mutu yang semakin ketat.

Bagi petani, taruhan utamanya ada pada konsistensi. Durian yang rasanya berubah-ubah antar panen sulit mempertahankan harga premium di pasar ekspor. Di sinilah sensor, data, dan AI dianggap bisa memberi jawaban.

Follow kabarpontianak.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks