KALIMANTAN BARAT — Teknologi telematika berbasis video dan AI kini dipakai perusahaan di Indonesia untuk menekan risiko kecelakaan sekaligus memangkas biaya operasional armada, melampaui fungsi GPS biasa. Geotab, TRAVL, dan Aerotrans Services Indonesia memaparkan penerapannya dalam sesi Media Roundtable di Jakarta, Kamis (8/10). Pendekatan ini menyasar perilaku pengemudi secara real-time, bukan sekadar pelacakan lokasi.
SEA Business Development Manager Geotab Alvin Santoso menjelaskan teknologi telematika berbasis video memungkinkan perusahaan memantau kondisi kendaraan, pengemudi, dan situasi jalan secara menyeluruh. Menurut Alvin, sistem ini melengkapi kemampuan GPS yang selama ini jadi standar pelacakan armada.
"Ini memanfaatkan tidak hanya GPS, jadi this is something beyond GPS. Kita memanfaatkan video telematics juga supaya memberikan konteks lebih lengkap lagi," kata Alvin dalam sesi Media Roundtable di Jakarta, Kamis (8/10).
Deteksi Perilaku Berisiko Secara Real-Time
Sistem telematika Geotab mendeteksi perilaku berkendara berisiko, termasuk tailgating atau mengemudi terlalu dekat dengan kendaraan di depan. Kecerdasan buatan menghitung kecepatan dan jarak antarkendaraan, lalu mengirim peringatan langsung saat pengemudi berada dalam kondisi berbahaya.
"Jadi memang tujuannya untuk memberikan korektif saat itu juga supaya insiden jangan sampai terjadi," ujar Alvin.
Data perilaku pengemudi yang terkumpul tidak berhenti di peringatan. Perusahaan dapat memakainya untuk menyusun program pelatihan keselamatan yang lebih terarah, berdasarkan pola pelanggaran yang benar-benar terjadi di lapangan.
Aerotrans Turunkan Batas Kecepatan Berdasarkan Data
Director of PT Aerotrans Services Indonesia Kadek Bayu Temaja menuturkan teknologi telematika membantu perusahaannya meningkatkan keselamatan sekaligus efisiensi operasional. Salah satu keputusan konkret muncul setelah sistem mendeteksi peningkatan tren pengereman mendadak.
"Akhirnya kita decide untuk menurunkan operate speed-nya jadi 110 kilometer per jam. Itu berdasarkan data yang kita miliki," kata Bayu. Sebelumnya, batas kecepatan operasional kendaraan Aerotrans berada di 115 kilometer per jam.
Sistem yang sama memberi peringatan dini soal potensi kerusakan komponen kendaraan, sehingga perbaikan bisa dilakukan sebelum mengganggu operasional. Aerotrans juga mengevaluasi kinerja pengemudi dan menyusun pelatihan berkala setiap enam bulan menggunakan data perilaku berkendara.
TRAVL Jaga Kenyamanan Penumpang di Jalur MBZ
Head of Business Unit TRAVL Alkautsar Salim menyebut teknologi serupa dipakai untuk memantau perjalanan dan meningkatkan kenyamanan penumpang. TRAVL menerapkan batas maksimal 90 kilometer per jam pada perjalanan melalui Jalan Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ), jalur yang dikenal bergelombang.
Pembatasan itu menjaga keselamatan sekaligus kenyamanan penumpang. Saat terjadi gangguan perjalanan, tim operasional TRAVL dapat menentukan kendaraan pengganti terdekat atau mengarahkan pengemudi lewat jalur alternatif ketika kemacetan muncul.
Telematika untuk Kendaraan Listrik
Alvin menambahkan teknologi telematika bisa diterapkan pada kendaraan listrik untuk memantau konsumsi energi, tingkat pengisian daya, kesehatan baterai, hingga riwayat pengisian. Data itu berguna bagi perusahaan yang ingin membandingkan efisiensi kendaraan konvensional dan listrik sebelum mengambil keputusan pengembangan armada.
Penerapan telematika berbasis AI di sektor transportasi dan logistik Indonesia masih didominasi perusahaan dengan armada besar. Namun kombinasi video, sensor, dan analitik AI membuka peluang adopsi lebih luas seiring tekanan biaya bahan bakar dan tuntutan keselamatan kerja yang makin ketat.