Laporan dari 404 Media yang dirilis pekan ini mendokumentasikan lonjakan drastis pembelian buku bekas oleh pihak ketiga yang diduga bertindak atas nama perusahaan AI besar. Seorang penjual buku profesional yang enggan disebut namanya mengaku omsetnya naik lima kali lipat sejak April tahun lalu—dari 20 buku per minggu menjadi beberapa ratus eksemplar. Pembelian ini tidak memedulikan genre, pengarang, atau harga, asalkan buku tersebut memiliki nomor ISBN.
ISBNdb, basis data yang mengkatalog lebih dari 111 juta buku, telah mengalihkan fokus bisnisnya untuk melayani pembelian massal bagi perusahaan AI. Menurut 404 Media, pesanan berkisar dari 1.000 eksemplar hingga satu juta buku dalam sekali transaksi. Platform seperti Alibris dan Biblio juga melaporkan pola serupa: pembeli anonim yang menggelontorkan dana besar tanpa menawar harga.
Yang menjadi tanda bahaya: tidak ada pola dalam subjek atau pengarang. Pembeli hanya mencari buku cetak yang terbit sebelum 2022—masa sebelum ledakan konten AI generatif mulai mencemari data publik. "AI slop", sebutan untuk konten buatan AI berkualitas rendah, dinilai kontraproduktif jika dipakai melatih model baru.
Praktik ini bukan tanpa preseden. Dalam gugatan sebelumnya, terungkap bahwa Anthropic—pengembang model Claude—menghabiskan jutaan dolar untuk menyewa jasa pemindaian dokumen. Datamation Information Services, salah satu vendor yang digunakan, menawarkan dua metode: non-destruktif dengan pemindai overhead, atau destruktif dengan menyobek jilid buku dan memasukkan halaman ke pemindai industri berkecepatan tinggi.
Perusahaan AI secara logis memilih jalur destruktif karena lebih efisien dan murah. Hasilnya: jutaan buku fisik berakhir di tempat pembuangan setelah data digitalnya disedot ke server privat. Tom Harvey, mantan eksekutif yang terlibat dalam proyek digitalisasi Google Books dan kemudian memimpin "Project Panama" di Anthropic, mengonfirmasi praktik ini dalam dokumen pengadilan.
Konsekuensi hukum mulai berdatangan. Meskipun pengadilan memutuskan bahwa penggunaan buku untuk pelatihan AI termasuk dalam fair use, Anthropic tetap dijatuhi denda fantastis sebesar 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 24 triliun) karena menyimpan repositori tujuh juta buku bajakan yang melanggar hak cipta penulis dan penerbit. Kini giliran Google yang digugat koalisi penerbit atas dugaan penggunaan ilegal jutaan buku berhak cipta untuk melatih model Gemini.
Yang memprihatinkan, tidak ada jaminan bahwa perusahaan AI menyaring buku langka atau edisi cetakan terbatas dari proses digitalisasi massal ini. Lebih krusial lagi: buku-buku yang sudah dipindai masuk ke basis data privat yang tidak bisa diakses publik. Generasi mendatang mungkin akan mewarisi AI yang lebih cerdas, tetapi kehilangan akses ke sumber pengetahuan asli yang menjadi bahan bakarnya.
Praktik ini menimbulkan pertanyaan etis yang belum terjawab: sejauh mana kemajuan teknologi bisa dibenarkan jika harus mengorbankan warisan literasi manusia yang tidak tergantikan?