Pemerintah Kota Singkawang mengupayakan penyesuaian jadwal penerbangan ke pagi hari agar Bandara Singkawang bisa kembali beroperasi di tengah gangguan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Opsi itu dibahas Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie bersama Komandan Lanud Supadio Pontianak Marsma TNI Sidik Setiyono, BMKG Stasiun Singkawang, AirNav Indonesia Cabang Pontianak, dan perwakilan maskapai. Gangguan operasional bandara selama sekitar satu bulan disebut berdampak pada sektor transportasi, pariwisata, perhotelan, hingga usaha kuliner dan restoran.
SINGKAWANG — Pemerintah Kota Singkawang mengupayakan penyesuaian jadwal penerbangan pada pagi hari sebagai solusi agar operasional Bandara Singkawang kembali berjalan di tengah gangguan kabut asap karhutla. Opsi tersebut dibahas Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie bersama Komandan Lanud Supadio Pontianak Marsma TNI Sidik Setiyono, BMKG Stasiun Singkawang, AirNav Indonesia Cabang Pontianak, dan perwakilan maskapai.
Menurut Tjhai Chui Mie, penerbangan pagi dipertimbangkan karena kondisi jarak pandang pada waktu tersebut cenderung lebih baik sehingga mendukung aspek keselamatan penerbangan.
Mengapa Penerbangan Pagi Jadi Opsi?
"Salah satu poin utama yang didiskusikan terkait penggunaan slot time di luar jadwal resmi operasional di Bandara Kota Singkawang pada kondisi karhutla. Penyesuaian ini dilakukan mempertimbangkan kondisi jarak pandang (visibility) yang jauh lebih ideal pada pagi hari untuk keselamatan penerbangan," kata Tjhai Chui Mie.
Pemkot Singkawang sebelumnya juga berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, dan maskapai untuk membahas skema penerbangan pagi sebagai solusi jangka pendek. Skema itu berjalan sambil menunggu pemasangan Instrument Landing System (ILS).
Sebulan Bandara Tutup, Pariwisata hingga Kuliner Kena Imbas
Gangguan operasional Bandara Singkawang selama sekitar satu bulan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi, tetapi juga pariwisata, perhotelan, usaha kuliner, dan restoran yang bergantung pada mobilitas masyarakat dari luar daerah.
"Langkah-langkah ini kami upayakan demi pergerakan perekonomian Kota Singkawang. Selama satu bulan bandara tidak beroperasi, dampaknya sangat terasa pada sektor pariwisata, perhotelan, hingga usaha kuliner dan restoran," ujarnya.
Keselamatan Tetap Pertimbangan Utama
Tjhai Chui Mie menegaskan keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap penyesuaian operasional bandara. Keputusan terkait waktu penerbangan akan menyesuaikan kondisi cuaca dan jarak pandang di lapangan.
"Kami akan terus berkomitmen dan memberi dukungan penuh agar Bandara Singkawang dapat segera beroperasi kembali secara normal seperti sediakala," katanya.
Pemkot Singkawang mengapresiasi dukungan Lanud Supadio, AirNav Indonesia, BMKG, dan maskapai dalam mencari solusi untuk memulihkan konektivitas udara dari dan menuju Singkawang.
Dengan penyesuaian operasional tersebut, pemerintah daerah berharap penerbangan di Bandara Singkawang dapat kembali berjalan. Konektivitas masyarakat dan aktivitas perekonomian daerah diharapkan berangsur pulih.