KALIMANTAN BARAT — Kamera pada smart glasses kini jadi masalah besar setelah serangkaian penyalahgunaan dan lambatnya penanganan Meta atas Ray-Ban. Sejumlah produsen yang bersiap merilis perangkat Android XR, termasuk Samsung dan Google, menghadapi stigma privasi yang sudah terbentuk lebih dulu. Pertanyaannya, apakah pasar smart glasses bisa pulih tanpa membuang fitur kamera yang justru jadi daya tarik utamanya?
Kamera menjadi salah satu daya tarik utama smart glasses generasi awal. Pengguna bisa merekam momen secara point-of-view tanpa harus mengeluarkan ponsel. Namun dalam setahun terakhir, fitur ini justru berubah menjadi beban reputasi yang menempel di seluruh kategori produk.
Meta Ray-Ban disebut sebagai pemicu utama adopsi smart glasses berkamera. Perusahaan menggaungkan fitur AI, tetapi daya jual sesungguhnya ada pada kamera yang siap merekam kapan saja. Sayangnya, kombinasi kamera mungil yang tersembunyi dan rekam jejak Meta dalam menangani data pribadi membuat publik sulit memberi kepercayaan.
Mengapa Kamera Smart Glasses Jadi Masalah
Stigma sosial terhadap kamera di kacamata terbentuk dari penyalahgunaan yang berulang. Sifat kamera yang tersembunyi membuat penyalahgunaan sederhana berubah menjadi pengalaman yang membuat orang di sekitar merasa tidak nyaman.
Dua persoalan mencuat pada Meta Ray-Ban. Pertama, posisi Meta sebagai pengelola data. Kebocoran yang menyebut moderator manusia menonton rekaman pribadi tanpa sensor, ditambah rencana pengenalan wajah dan rekaman selalu aktif, mengikis niat baik yang tersisa.
Kedua, lambatnya respons Meta terhadap penyalahgunaan. Selama hampir dua tahun beredar praktik modifikasi untuk mematikan LED privasi pada Ray-Ban. Meta baru menerapkan perbaikan pada Juli tahun ini, sementara celah yang lebih jelas baru ditutup belakangan.
Dampak ke Samsung, Google, dan Pemain Lain
Samsung dan Google bersiap meluncurkan smart glasses Android XR pertama, dan setiap model disebut memiliki kamera. Keduanya menghadapi tantangan berat karena stigma "kacamata mesum" sudah tersebar luas di kalangan pengguna.
Samsung menyatakan sudah menyiapkan proteksi terhadap upaya manipulasi kamera sejak awal. Namun tidak semua calon pembeli mengetahui klaim tersebut, sehingga beban edukasi pasar tetap besar.
Produsen lain memilih jalan berbeda. Even Realities menghadirkan smart glasses tanpa kamera, mengandalkan fungsi tampilan dan audio. Pendekatan ini menghindari stigma, tetapi menghilangkan utilitas yang banyak dicari pengguna.
Kamera Tetap Berguna, tapi Butuh Waktu
Kamera pada smart glasses punya kegunaan nyata. Memindai dan menerjemahkan menu, meminta deskripsi objek di sekitar, hingga merekam momen hobi tanpa repot mengeluarkan ponsel. Speaker bawaan juga menambah fungsi hands-free.
Yang dibutuhkan bukan menghapus kamera, melainkan tata kelola privasi yang jelas dan penegakan aturan yang cepat. Selama produsen membiarkan celah penyalahgunaan terbuka, kepercayaan publik akan sulit dibangun kembali.
Pasar smart glasses diprediksi butuh bertahun-tahun untuk mencapai bentuk idealnya. Stigma kamera mungkin mereda, tetapi hanya jika produsen berikutnya belajar dari kesalahan Meta dan menempatkan privasi sebagai fondasi, bukan tambahan.