KALIMANTAN BARAT — Nubia NaviX Ultra resmi diluncurkan di Tiongkok sebagai generasi kedua ponsel "beanbag" dengan kamera utama 200 megapixel dan chipset Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5. Ponsel ini menjalankan Doubao Mobile Assistant besutan ByteDance dan hadir dalam tiga konfigurasi, mulai dari 12GB + 512GB hingga 16GB + 1TB. Perangkat ini menyasar pengguna yang ingin menjalankan tugas lintas aplikasi hanya lewat satu perintah suara.
Nubia NaviX Ultra resmi meluncur di pasar Tiongkok sebagai penerus ponsel berbasis AI yang ditenagai ByteDance. Peluncuran ini berlangsung hanya beberapa minggu setelah Presiden Nubia memberi bocoran bahwa perangkat tersebut diposisikan sebagai "AI agent phone pertama di dunia".
Nubia menyebut NaviX Ultra sebagai generasi kedua dari ponsel "beanbag", julukan yang melekat sejak kesuksesan seri M153. Perangkat pendahulu itu sempat ludes terjual pada Desember lalu, sebelum menghadapi kendala teknis ketika sejumlah aplikasi besar di Tiongkok membatasi kemampuan asisten virtual Doubao Mobile Assistant di platform mereka.
Layarnya juga dilengkapi DC dimming dan 2160Hz PWM dimming untuk mengurangi kelelahan mata saat dipakai dalam waktu lama. Kombinasi baterai 7.100 mAh dengan bodi 7,62 mm menjadi salah satu daya tarik teknis perangkat ini.
Ciri paling menonjol pada NaviX Ultra adalah tombol AI beraksen oranye yang sekaligus berfungsi sebagai sensor sidik jari. Nubia mengklaim penggabungan kedua fungsi ini sebagai yang pertama di industri smartphone.
Tombol tersebut mampu mengenali berbagai dialek lokal, aktif lewat perintah suara, dan berjalan menggunakan model suara full-duplex Seed terbaru. Pengguna bisa menyela respons asisten di tengah percakapan, mirip saat berbicara dengan manusia. Nubia juga memindahkan posisi tombol agar lebih mudah dijangkau dengan satu tangan.
Klaim Nubia, wake-up rate perangkat ini 48% lebih tinggi dibanding kompetitor di lingkungan bising seperti stasiun kereta bawah tanah. Akurasi pengenalan kalimatnya naik hingga 21% dan mendukung lebih dari sepuluh dialek regional, termasuk Kanton dan Minnan.
Asisten AI di NaviX Ultra tidak hanya mengandalkan suara. Kemampuan visualnya memungkinkan pengguna menanyakan detail objek yang tampil di layar, mengarahkan kamera ke benda tertentu untuk mendapat informasi instan, hingga memahaminya saat panggilan video berlangsung.
Fitur produktivitasnya mencakup pengenalan produk di layar yang langsung mengarahkan pengguna ke halaman pembelian. Asisten pintar ini juga dapat menangani panggilan telepon dengan skrip balasan khusus serta menyaring pemberitahuan penting agar tetap di urutan teratas.
Kehadiran versi konsumen Doubao Mobile Assistant ini menyusul pratinjau teknis yang dirilis ByteDance pada akhir tahun lalu. Nubia menegaskan pembaruan kali ini membawa perubahan signifikan pada mekanisme interaksi, memori personal, eksekusi tugas, dan kontrol privasi pengguna.
Nubia NaviX Ultra hadir dalam tiga pilihan konfigurasi. Model 12GB + 512GB dibanderol 5.999 yuan, varian 16GB + 512GB dijual 6.499 yuan, dan varian tertinggi 16GB + 1TB dipasarkan 7.499 yuan.
Belum ada informasi resmi soal ketersediaan NaviX Ultra di pasar Indonesia. Ponsel ini sejauh ini diposisikan untuk pasar Tiongkok, mengingat integrasi Doubao Mobile Assistant yang erat dengan ekosistem ByteDance di sana.
NaviX Ultra melanjutkan seri M153 yang sempat ludes terjual pada Desember lalu. Tantangan yang dihadapi pendahulunya adalah pembatasan akses Doubao Mobile Assistant oleh sejumlah aplikasi besar di Tiongkok.
Nubia merespons dengan menyempurnakan mekanisme interaksi, memori personal, hingga kontrol privasi di NaviX Ultra. Perangkat ini diposisikan sebagai jawaban atas kendala yang dihadapi generasi pertama ponsel "beanbag" tersebut.
Nubia NaviX Ultra cocok untuk pengguna yang ingin mencoba pengalaman AI agent phone dengan integrasi asisten lintas aplikasi lewat perintah suara. Namun bagi yang butuh perangkat dengan dukungan resmi di Indonesia, perlu menunggu pengumuman lebih lanjut dari Nubia.