PONTIANAK — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pontianak tahun ini tidak berhenti pada seremoni keagamaan. Edi Rusdi Kamtono memakai forum tersebut untuk menyoroti kondisi kota yang belakangan diuji cuaca ekstrem, mulai dari kemarau panjang, kabut asap, gangguan kualitas air baku, hingga ancaman musim hujan.
Menurut Edi, rangkaian persoalan itu berdampak berlapis. Bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan warga, jalannya pendidikan, dan aktivitas ekonomi harian.
Edi menilai kehidupan tidak pernah lepas dari perubahan, baik yang datang dari faktor internal maupun eksternal. Besar kecilnya perubahan, kata dia, bergantung pada cara masyarakat menyikapinya.
"Dunia ini pasti mengalami perubahan, seperti hidup kita dari lahir sampai meninggal. Besar kecilnya perubahan itu tergantung bagaimana kita menyikapinya," ujarnya saat membuka acara.
Dari situ ia menarik kesimpulan praktis. Warga Pontianak perlu punya kesiapan dan ketahanan menghadapi ujian yang datang silih berganti, bukan mudah kehilangan ketenangan.
"Semua ada dampaknya. Karena itu kita harus punya kesiapan dan ketahanan dalam menghadapinya," jelasnya.
Nilai kesabaran, kebersamaan, dan kepedulian dinilai Edi justru harus semakin diperkuat ketika kondisi sedang sulit. Ia meminta warga lebih bijak dan saling membantu.
"Dalam kondisi seperti ini, kita perlu lebih bijak, lebih sabar dan saling membantu. Itulah yang harus terus kita jaga," katanya.
Pemerintah Kota Pontianak, lanjut Edi, tetap bertanggung jawab memperbaiki pelayanan publik pada kebutuhan dasar. Ia mengaku memahami ketidaknyamanan warga saat kualitas air terganggu, jalan rusak, atau layanan lain tersendat.
"Kalau ada pelayanan yang masih kurang, tentu itu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk terus memperbaikinya. Masyarakat harus mendapatkan pelayanan yang semakin baik," ujarnya.
Persoalan air bersih mendapat perhatian khusus. Pemenuhan air baku dan pengolahan air minum terus diupayakan agar kebutuhan warga tetap terjaga, terutama saat kondisi alam tidak mendukung.
Namun Edi menegaskan penyelesaian persoalan kota tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterbatasan anggaran, tenaga, dan waktu membuat peran masyarakat menjadi penentu.
"Pemerintah punya keterbatasan, baik dari sisi anggaran, tenaga maupun waktu. Karena itu kebersamaan menjadi penting. Kalau kita saling membantu dan saling memahami, persoalan akan lebih mudah kita hadapi," katanya.
Edi berharap peringatan Maulid benar-benar menjadi ruang introspeksi dan penguatan karakter masyarakat. Bukan sekadar agenda tahunan yang selesai setelah acara.
"Maulid mengingatkan kita untuk meneladani Rasulullah, menjadi lebih sabar, lebih bijak, lebih bermanfaat dan lebih peduli terhadap sesama. Itu yang kita butuhkan untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan," pungkasnya.