KALIMANTAN BARAT — Puluhan motor trail yang viral disebut sebagai motor listrik operasional MBG dibuang di tempat sampah di Bekasi ternyata kendaraan bensin milik TNI. Motor-motor itu adalah Kawasaki KLX 150 yang dititipkan sementara sebelum dikirim ke Koramil, Kodim, dan Kodam. Narasi di media sosial dipastikan keliru.
Video singkat yang beredar di media sosial menarasikan puluhan motor trail listrik operasional program makan bergizi gratis (MBG) dibuang di tempat sampah. Lokasi yang disebut dalam unggahan itu adalah jalan inspeksi Banjir Kanal Timur (BKT), dekat Harapan Indah, Bekasi. Unggahan pertama datang dari akun X @jenostalker yang menampilkan video dan foto motor-motor terparkir rapi di area pembuangan.
Penelusuran ke Lokasi: Motor Sudah Dipindahkan
Saat lokasi didatangi untuk verifikasi, puluhan motor trail itu sudah tidak ada. Pengelola lahan, Syaiful, menyebut kendaraan tersebut sempat parkir sekitar sebulan sebelum dipindahkan.
"Iya, udah sebulanan diparkir. Terus udah dipindahin semalam," kata Syaiful di lokasi, Rabu (19/10/2026).
Dari keterangan Syaiful, dua poin penting terungkap. Motor-motor itu tidak dibuang, melainkan dititipkan. Kendaraannya pun bukan motor listrik, melainkan motor trail bensin milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menunggu didistribusikan.
Kawasaki KLX 150, Bukan Motor Listrik
Syaiful memastikan unit yang dititipkan adalah Kawasaki KLX 150 berbahan bakar bensin. Motor-motor itu akan dikirim ke Koramil, Kodim, dan Kodam. Lahan tersebut memang sudah sering disewa sebagai tempat penitipan sementara.
"Motor bensin, Kawasaki (KLX 150). Jadi dititipkan sementara di sini, nanti dikirim ke Koramil, Kodim, Kodam. Memang sudah sering nyewa tempat penitipan di sini," sambung Syaiful.
Foto yang beredar juga memperkuat temuan itu. Ada komponen knalpot di bagian bodi kanan motor, sesuatu yang tidak dimiliki kendaraan listrik. Kesimpulannya, klaim "motor trail listrik MBG dibuang di tempat sampah" tidak sesuai fakta.
Kenapa Isu Motor MBG Sensitif
Motor operasional MBG menjadi topik panas karena pengadaan puluhan ribu motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) tersandung kasus korupsi. Awalnya kendaraan itu dibelanjakan untuk Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), alasan yang kemudian dinilai tidak relevan.
"Sebenarnya tadinya itu kan mau untuk kepala SPPG. Sebenarnya menurut kami nggak membutuhkan lah, karena fungsi mereka kan sebenarnya lebih kepada pengawasan di dalam situ, mereka nggak yang perlu motor ke lapangan dan sebagainya," kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, Juli lalu, seperti dikutip dari CNN Indonesia.
19.269 Unit Dibeli, 5.585 Tanpa Baterai
Kejaksaan Agung mengungkap BGN era kepemimpinan Dadan Hindayana membeli 19.269 unit motor listrik. Sebanyak 5.585 unit di antaranya tidak dilengkapi baterai.
"Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.355 unit motor listrik jenis trail dan 230 unit motor listrik jenis skuter/bebek dilaporkan tidak dilengkapi baterai," ungkap Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna seperti dikutip, Senin (12/10/2026).
Anang menambahkan seluruh motor listrik roda dua yang diserahkan tidak memiliki pelat nomor kendaraan dinas. Akibatnya kendaraan itu tidak bisa dimanfaatkan dan tidak dapat masuk inventarisasi Barang Milik Negara (BMN).
Audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mencatat kerugian keuangan negara dari kasus ini. "Perkara ini mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 863.846.166.953," sebut Anang.
Lima Tersangka Sudah Dilimpahkan ke JPU
Para tersangka dijerat Pasal 603 KUHP juncto Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 20 huruf c KUHP, dengan subsider Pasal 604 KUHP juncto Pasal 18 UU Tipikor juncto Pasal 20 huruf c KUHP. Lima tersangka dari klaster korupsi motor listrik kini sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum:
- BU, mantan Sekretaris Deputi Bidang Penyediaan pada BGN dan selaku PPK (Kolonel Budi Utomo)
- GB, Direktur PT ASE dan Direktur PT AKI
- AM (Andri Mulyono), Komisaris PT ASE dan Komisaris PT YAT
- YY, Direktur PT YAT
- AA, Direktur PT ASE
Bagi pemilik akun media sosial yang telanjur menyebarkan narasi itu, temuan di lapangan memberi konteks yang hilang: kendaraan di area BKT adalah motor trail bensin milik TNI yang menunggu distribusi, bukan motor listrik MBG yang dibuang.