PONTIANAK — Data BMKG yang diolah dari Fire Information for Resource Management System (FIRMS) mencatat 652 titik panas tersebar di Kalbar hingga Senin malam. Rinciannya, 12 titik berkepercayaan tinggi, 633 kategori sedang, dan tujuh kategori rendah. Pemantauan memakai citra satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA-20.
Angka itu jauh lebih kecil dibanding sehari sebelumnya yang mendeteksi 1.928 titik hingga pukul 21.00 WIB. Saat itu tercatat 179 titik berkepercayaan tinggi, 1.684 kategori sedang, dan 65 kategori rendah.
Udara Pontianak Turun 175 Poin dalam Sehari
Perbaikan kualitas udara terlihat dari catatan IQAir. AQI US di Pontianak berada di angka 90 pada Senin pukul 23.00 waktu setempat, turun 175 poin dari 265 pada Minggu pukul 17.00.
Konsentrasi partikel halus PM2.5 juga merosot tajam. Dari 190 mikrogram per meter kubik menjadi 30 mikrogram per meter kubik. PM2.5 merupakan partikel polusi berukuran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke saluran pernapasan.
Meski begitu, kedua data diambil pada waktu pengukuran yang berbeda. Kualitas udara masih bisa berubah mengikuti cuaca dan pergerakan asap, sehingga pemantauan lanjutan tetap dibutuhkan.
Hujan Diyakini Membantu, tapi Belum Cukup Jadi Patokan
Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalbar berpotensi meredakan karhutla dengan membasahi vegetasi dan permukaan lahan. Namun, penurunan titik panas dan polusi tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan hujan tanpa data curah hujan dan kondisi atmosfer yang lebih rinci.
Yang jelas, angka 12 titik berkepercayaan tinggi belum berarti api sudah padam total. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi.
Kendawangan Ketapang Masih Dikejar, 150 Titik Panas Ditindaklanjuti
Di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, tim gabungan melakukan pengecekan, pemadaman, dan pendinginan pada Sabtu (17/10/2026). Langkah itu menindaklanjuti temuan sekitar 150 titik panas melalui aplikasi Lancang Kuning di kawasan konsesi PT HKI, PT SKS, PT BMJ, serta area penggunaan lain (APL).
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama menyatakan pengecekan dan pemadaman diperlukan untuk mencegah api meluas. Pendinginan dilakukan setelah api dipadamkan guna menekan risiko kebakaran kembali.
"Kami terus mengoptimalkan upaya pengecekan dan pemadaman di lokasi terdeteksi hotspot. Kami juga mengajak masyarakat serta pihak perusahaan untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran hutan dan lahan," ujar Putra.
Penanganan melibatkan personel Polri, TNI, dan petugas pemadam kebakaran perusahaan. Mereka memakai kendaraan pemadam, sepeda motor, pompa punggung, serta peralatan pendukung untuk menjangkau lokasi terdampak.
Warga Diminta Tetap Waspada Meski Udara Lebih Baik
Kategori sedang bukan jaminan udara sepenuhnya bebas polusi. Warga diminta memantau kualitas udara secara berkala, terutama bila kabut asap kembali menebal atau muncul keluhan pernapasan.
Jika kondisi memburuk, aktivitas berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Patroli dan pendinginan di kawasan yang sebelumnya terbakar juga masih perlu dilanjutkan.