Moeldoko Pilih Truk dan Bus Listrik, Hindari Pasar Mobil Penumpang

Penulis: Luqman Arif  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 12:51:32 WIB
Pendiri Mobil Anak Bangsa (MAB) Moeldoko memilih fokus mengembangkan kendaraan listrik komersial seperti truk dan bus.

KALIMANTAN BARAT — Pendiri Mobil Anak Bangsa (MAB) Moeldoko memilih fokus mengembangkan kendaraan listrik komersial seperti truk tambang, truk perkebunan, dan bus, alih-alih mobil penumpang. Keputusan itu diambil karena pasar mobil penumpang sudah terlalu padat dan menuntut modal besar, sementara segmen komersial masih menyisakan ruang bersaing.

Moeldoko menilai masuk ke pasar mobil penumpang bukan pilihan realistis bagi pemain baru seperti MAB. Persaingan di segmen itu sudah sangat ketat dan biaya investasinya tinggi, sehingga peluang untuk merebut pangsa pasar relatif kecil. Karena itu, ia mengarahkan perusahaan ke kendaraan komersial yang kebutuhannya lebih spesifik.

Segmen yang dibidik mencakup truk untuk operasional pertambangan, perkebunan, dan logistik, serta bus. Ketiga jenis kendaraan itu dinilai punya karakter permintaan yang berbeda dari mobil pribadi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada selera konsumen ritel.

Alasan Menghindari Pasar Mobil Penumpang

Moeldoko menjelaskan, pemain yang telat masuk ke mobil penumpang akan sulit mengejar ketertinggalan. Pasar sudah diisi merek-merek besar dengan modal dan jaringan yang mapan.

“Kalau kita bermain di mobil penumpang, pasti jauh ketinggalan. Sudah ramai dan modalnya sangat tinggi. Tapi dengan kita bermain di sektor komersial, kita masih bisa,” kata Moeldoko kepada VOI di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, belum lama berselang.

Pernyataan itu memberi gambaran soal strategi bisnis yang ia tempuh: tidak mengejar segmen paling populer, tetapi mencari ceruk kebutuhan yang lebih spesifik. Di segmen komersial, pembeli biasanya menilai kendaraan dari sisi biaya operasional dan kelayakan ekonomi, bukan sekadar desain atau tren.

Tantangan Kendaraan Listrik Komersial

Membangun kendaraan listrik, termasuk untuk keperluan komersial, tetap tidak sederhana. Industri ini menuntut kesiapan teknologi, investasi besar, infrastruktur pengisian daya, dan penerimaan pasar yang belum sepenuhnya matang di Indonesia.

Untuk kendaraan komersial, tantangannya bertambah karena pemilik armada menghitung dampak langsung ke biaya usaha. Truk tambang atau bus yang beroperasi sepanjang hari butuh kepastian soal daya tahan baterai, waktu pengisian, dan ketersediaan suku cadang.

Meski begitu, Moeldoko melihat sektor ini sebagai salah satu jalur untuk ikut mengubah industri transportasi. Kendaraan listrik dalam pandangannya bukan cuma soal produk baru, tetapi juga menyangkut efisiensi operasional, peluang usaha baru, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan emisi dari sektor transportasi.

Dua Sektor, Satu Benang Merah

Selain kendaraan listrik, Moeldoko juga mengembangkan usaha di sektor pertanian. Dua bidang itu terlihat jauh berbeda, tetapi menurutnya memiliki benang merah yang sama: keinginan untuk terus menghasilkan sesuatu yang berdampak.

Pilihan MAB di segmen komersial juga sejalan dengan kebutuhan pasar dalam negeri. Pertambangan dan perkebunan di Indonesia merupakan pengguna armada besar yang operasionalnya menuntut kendaraan tahan berat, sementara logistik dan angkutan umum membutuhkan armada dengan biaya bahan bakar yang efisien.

Bagi industri kendaraan listrik nasional, langkah MAB menunjukkan bahwa penetrasi pasar tidak harus selalu lewat mobil pribadi. Segmen komersial bisa menjadi pintu masuk yang lebih masuk akal, terutama bagi pemain lokal yang ingin bersaing tanpa harus menandingi merek global di pasar ritel.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top