Psikolog Soroti IGRS: Rating Usia Game Jangan Justru Jadi Daya Tarik

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 15:21:01 WIB
Psikolog klinis Veronica Adesla menilai IGRS membantu orang tua memilih game sesuai kesiapan perkembangan anak.

KALIMANTAN BARAT — Indonesian Gaming Rating System (IGRS) dinilai membantu orang tua memilih game sesuai kesiapan perkembangan anak. Psikolog klinis Veronica Adesla mengingatkan pembatasan usia berisiko membuat game terlarang makin diburu anak di bawah umur. Sistem rating dinilai perlu disertai penjelasan, bukan sekadar simbol larangan.

Co-founder dan Psikolog Klinis Ohana Space Veronica Adesla menilai sistem rating game nasional itu berguna karena anak tidak memiliki perkembangan kognitif yang sama. Pendampingan orang tua tetap menjadi kunci utama dalam penerapannya.

Profesional yang tergabung dalam Ikatan Psikolog Klinis Indonesia tersebut menekankan bahwa sistem rating dapat membantu orang tua memilih permainan yang lebih sesuai dengan kesiapan perkembangan anak. Namun, ia mewanti-wanti agar pembatasan usia tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Peringatan soal Efek "Terlarang"

Menurut Veronica, pembatasan usia berpotensi membuat permainan tertentu justru semakin menarik karena dianggap terlarang atau lebih dewasa. Anak juga bisa merasakan tekanan untuk ikut memainkan game tidak sesuai usia agar diterima lingkungannya.

"Kita juga perlu berhati-hati agar pembatasan usia tidak justru membuat permainan tertentu semakin menarik karena dianggap terlarang atau lebih dewasa. Ataupun memperhatikan bila anak merasakan adanya tekanan untuk ikut bermain (permainan tidak sesuai usia) agar dapat diterima oleh lingkungannya yang memainkan permainan tidak sesuai usia," ujar Veronica kepada detikINET.

Rating sebagai Sarana Edukasi

Sistem rating dapat memengaruhi perilaku anak apabila anak terbantu memahami batasan dan membentuk kesadaran memainkan permainan sesuai usia. Kuncinya ada pada penjelasan yang mudah dimengerti dan dapat diterima anak, sehingga anak belajar bahwa tidak semua konten cocok untuk setiap tahap perkembangan.

Veronica menilai hal tersebut dapat menumbuhkan pemahaman terhadap aturan, pertimbangan risiko, dan tanggung jawab dalam memilih aktivitas digital. Cara orang dewasa menyampaikan aturan akan sangat menentukan respons anak.

Larangan Keras Berpotensi Picu Konflik

Larangan yang terlalu keras tanpa penjelasan dan komunikasi berpotensi menimbulkan penolakan, perilaku sembunyi-sembunyi, atau konflik antara anak dan orang tua. Sebaliknya, pembatasan yang disertai penjelasan masuk akal, komunikasi dua arah, serta alternatif aktivitas menarik memberi anak kesempatan lebih besar memahami tujuan aturan.

"Karena itu, saya memandang bahwa sistem rating sebaiknya tidak hanya menggunakan angka usia, tetapi juga disertai keterangan yang mudah dipahami mengenai alasan suatu game dibatasi, misalnya karena konten kekerasan, interaksi online, atau transaksi dalam permainan. Dengan demikian, rating dapat berfungsi sebagai sarana edukasi, bukan hanya simbol larangan," pendapatnya.

Pendampingan, Bukan Penjauhan

Pendampingan dan bimbingan orang dewasa bertujuan mengembangkan kemampuan anak mengelola, mengatur, dan meregulasi diri sesuai usianya. Langkah ini bukan untuk menjauhkan anak sepenuhnya dari dunia digital.

Justru sebaliknya, pendampingan mempersiapkan anak agar mampu hidup, belajar, berinteraksi, dan berkembang secara sehat di dalam ekosistem digital. Bagi pelaku industri game, masukan ini menjadi catatan bahwa label usia perlu dirancang sebagai alat edukasi, bukan sekadar pembatas.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top