KALIMANTAN BARAT — Trump menyuarakan kemarahannya melalui platform Truth Social, menyebut praktik UE “ilegal dan sangat tidak etis.” Ia mengklaim total denda Google saja telah menembus US$18 miliar dan menegaskan Amerika bukan “celengan” bagi Eropa.
“Kami akan segera memulai Investigasi 301 terhadap praktik perampokan perusahaan Amerika dan, pada gilirannya, pembayar pajak Amerika,” tulis Trump. “Uni Eropa akan membayar harga yang sangat mahal.”
Kronologi Denda: Apple, Google, Meta, dan Amazon Jadi Target
Denda terbaru dijatuhkan pekan ini: Google didenda US$1 miliar setelah pengadilan mempertahankan denda Android sebelumnya sebesar US$4,5 miliar. Apple terkena denda US$570 juta pada 2025. Meta menerima dua denda: US$840 juta di 2024 dan US$200 juta di 2025. Amazon juga kena denda US$2,5 miliar.
UE mendasarkan sanksi ini pada pelanggaran aturan antitrust dan Digital Markets Act (DMA). Aturan DMA, yang mulai berlaku penuh tahun lalu, mewajibkan perusahaan “gatekeeper” seperti Apple, Google, dan Meta untuk memberikan ruang lebih besar bagi kompetitor dan tidak menyalahgunakan posisi dominan.
Apa Itu Investigasi 301 dan Bagaimana Dampaknya?
Investigasi 301 adalah instrumen dagang AS yang memungkinkan pemerintah memberlakukan tarif atau pembatasan lain terhadap negara yang dianggap melakukan praktik dagang tidak adil. Trump mengancam akan memberlakukan “tarif besar” sebagai balasan atas denda yang dianggap diskriminatif.
Ini bukan pertama kali Trump mengancam UE. Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) juga sudah memberi sinyal akan mengenakan bea dan pembatasan terhadap layanan dan perusahaan Eropa. Trump juga baru saja mengganti tarif blanket 10% yang berakhir hari ini dengan tarif baru yang menargetkan 60 negara—termasuk Inggris, China, dan UE—dengan tuduhan gagal memberantas impor barang hasil kerja paksa.
Dampak ke Konsumen: Harga HP dan Laptop Bisa Terimbas
Bagi konsumen Indonesia, eskalasi perang dagang ini bukan sekadar berita politik. Jika tarif benar-benar diterapkan, harga produk Apple, Google (Pixel), dan perangkat lain yang diproduksi di China dan diimpor ke AS bisa naik. Kenaikan biaya impor seringkali dibebankan ke konsumen akhir.
Selain itu, denda yang sudah dibayarkan oleh perusahaan teknologi—yang totalnya mencapai miliaran dolar—juga berpotensi mempengaruhi anggaran riset dan pengembangan. Namun, sejauh ini belum ada sinyal langsung bahwa harga di Indonesia akan berubah dalam waktu dekat.
Apa Itu Digital Markets Act (DMA)?
Bagi pembaca yang baru pertama kali mendengar istilah ini: DMA adalah regulasi UE yang dirancang untuk mengendalikan praktik anti-persaingan perusahaan teknologi besar. Aturan ini mewajibkan platform seperti App Store, Google Play, dan WhatsApp untuk membuka akses ke pihak ketiga, tidak memprioritaskan layanan sendiri, dan memberikan opsi kepada pengguna untuk memilih browser atau mesin pencari default.
Pelanggaran DMA bisa berakibat denda hingga 10% dari pendapatan global tahunan perusahaan. Untuk Apple, yang pendapatannya mencapai US$383 miliar pada 2024, potensi denda maksimal bisa mencapai US$38 miliar. Inilah yang membuat Trump geram dan menyebutnya sebagai “perampokan.”
Sampai berita ini diturunkan, UE belum memberikan tanggapan resmi terhadap ancaman tarif Trump. Namun, perseteruan ini diperkirakan akan berlarut-larut dan berpotensi mempengaruhi rantai pasok teknologi global.