Lonjakan konten buatan AI di internet memang sudah tidak terbendung. Layanan streaming seperti Spotify kini kebanjiran lagu-lagu yang dihasilkan algoritma, dan Suno menjadi salah satu sumber utamanya. Namun, perusahaan yang berbasis di Cambridge, Massachusetts itu kini mencoba merapikan reputasinya dengan kebijakan baru yang lebih ketat.
Mengapa Watermark Ini Penting bagi Industri Musik
Dalam sebuah unggahan blog, CEO sekaligus salah satu pendiri Suno, Mikey Shulman, menyatakan perubahan ini diperlukan untuk menyelaraskan diri dengan "standar industri yang sedang muncul" untuk pelabelan konten buatan AI. Watermark akan ditambahkan ke semua keluaran audio dari model mereka, memberi platform opsi untuk menandai konten sebagai buatan AI atau memblokirnya sepenuhnya.
Kebijakan ini bukan sekadar formalitas. Bagi musisi independen dan label rekaman di Indonesia, banjirnya musik AI di platform streaming telah lama menjadi keluhan karena mempersulit karya orisinal bersaing dalam algoritma rekomendasi. Dengan adanya penanda ini, kurator playlist dan platform streaming bisa lebih mudah menyaring konten sintetis.
Solusi In-House atau Teknologi Pihak Ketiga?
Shulman tidak merinci apakah Suno akan membangun sistem watermark internal atau memakai solusi siap pakai seperti SynthID milik Google. Sebelumnya, Google baru saja mulai melisensikan SynthID ke perusahaan lain. Teknologi tersebut diklaim telah digunakan untuk melabeli audio setara 60.000 tahun yang dihasilkan model Gemini, serta lebih dari 100 miliar gambar dan video.
Pilihan ini penting karena menentukan seberapa andal watermark tersebut terhadap upaya penghapusan. SynthID dikenal memiliki ketahanan tinggi terhadap kompresi dan modifikasi audio, sementara solusi internal yang belum teruji bisa jadi kurang efektif di lapangan.
Dampak bagi Pengguna dan Platform Streaming
Bagi pengguna biasa, perubahan ini tidak akan terasa langsung. Lagu yang dihasilkan tetap terdengar sama, hanya saja kini membawa penanda tersembunyi yang bisa dibaca sistem. Namun bagi platform streaming, ini adalah kabar baik karena memberi mereka alat untuk memoderasi konten tanpa harus membangun sistem deteksi sendiri.
Langkah Suno ini juga menjadi sinyal bahwa era musik AI tanpa identitas akan segera berakhir. Seiring semakin banyaknya generator yang menerapkan watermark, tekanan terhadap pemain lain di industri untuk melakukan hal serupa akan meningkat. Pertanyaannya kini tinggal menunggu apakah platform streaming besar akan benar-benar memanfaatkan opsi untuk memblokir konten ber-watermark, atau sekadar menandainya sebagai informasi tambahan.