PONTIANAK — Krisantus menilai persoalan air payau yang membuat air terasa asin bukan kejadian sekali lewat. Menurutnya, kondisi serupa muncul hampir setiap tahun dengan tingkat keparahan yang berubah-ubah, sehingga penanganan darurat berupa bantuan air bersih tidak cukup untuk jangka panjang.
"Ke depan saya meminta kepada Bapperida, yang tadi juga hadir, untuk segera membuat pengkajian bagaimana kita bisa memprogramkan satu SPAM regional yang dapat melayani beberapa kabupaten untuk menyediakan air bersih," kata Krisantus di Kubu Raya, Selasa (22/9).
Dampak Air Payau sampai ke Pompa dan Peralatan Rumah Tangga
Air yang payau dan terasa asin mengganggu kebutuhan sehari-hari warga. Dampaknya tidak berhenti di soal rasa, tetapi merembet ke peralatan rumah tangga.
"Kalau sekarang airnya terasa asin. Biasanya mungkin tidak terlalu asin seperti sekarang. Tetapi jelas berdampak kepada masyarakat, termasuk peralatan rumah tangga, mesin, pompa dan peralatan lainnya yang bisa menjadi lebih cepat rusak," jelasnya.
Kerusakan mesin dan pompa akibat air payau membuat warga menanggung biaya perbaikan atau penggantian yang tidak kecil. Persoalan itu berulang dari tahun ke tahun tanpa solusi permanen.
Mengapa Pemprov Kalbar Tidak Ingin Lagi Andalkan Anggaran Darurat
Krisantus menegaskan kajian SPAM regional perlu dipercepat karena persoalan air bersih terus muncul. Pemerintah provinsi, katanya, tidak ingin hanya menggelontorkan anggaran setiap kali bencana air payau datang.
"Ini harus segera kita lakukan. Tidak bisa lagi menunggu-menunggu, karena persoalan ini terjadi setiap tahun," ujarnya.
Ia menyatakan Pemprov Kalbar siap berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memperjuangkan dukungan pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih. Krisantus menyebut dirinya akan mendampingi proses pengajuan ke kementerian terkait.
"Saya siap mendampingi, menemui kementerian di pemerintah pusat untuk memperjuangkan persoalan yang terjadi setiap tahun ini," terangnya.
Menurutnya, infrastruktur air bersih harus menjadi bagian dari upaya mencari solusi permanen bagi masyarakat. Ia mempertanyakan pola anggaran yang selama ini hanya habis untuk penanganan darurat tanpa menyelesaikan akar masalah.
"Daripada setiap tahun kita hanya mengeluarkan anggaran untuk penanganan, kenapa kita tidak mencari solusi jangka panjang untuk penyediaan air bersih, air yang tidak payau bagi masyarakat," tutupnya.
Instalasi PMI Kalbar Olah Air Baku lewat Beberapa Tahap Penyaringan
Dalam peninjauan di kawasan TMP Patria Jaya, Krisantus melihat langsung proses pengolahan air baku melalui beberapa tahapan penyaringan hingga menghasilkan air yang lebih jernih dan layak digunakan. Air hasil olahan itu tetap harus dimasak sebelum dikonsumsi.
Instalasi tersebut disiapkan PMI Kalbar untuk membantu warga yang kesulitan memperoleh air bersih. Air yang telah diolah ditampung dalam tangki, lalu dimuat ke truk untuk didistribusikan ke masyarakat yang membutuhkan.
Krisantus mengapresiasi langkah PMI Kalbar yang memperluas perannya, tidak hanya lewat pelayanan donor dan penyediaan darah, tetapi juga pemenuhan kebutuhan air bersih saat kondisi darurat.