KALIMANTAN BARAT — Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 13 poin di level 17.515 per dolar AS, namun kembali melemah hingga mencapai 17.541 per dolar AS pada pukul 09.52 WIB. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang lebih luas di pasar valuta asing, di mana mayoritas mata uang Asia juga mengalami penurunan terhadap dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah sebagian besar disebabkan oleh situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, yang berdampak pada harga minyak global. Selain itu, terdapat juga faktor domestik, seperti peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan pembayaran ibadah haji.
Destry menegaskan, "BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF." Ia menambahkan, BI juga akan mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter untuk mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah.
Meski mengalami tekanan, Destry mencatat bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia menunjukkan perbaikan. Aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Rekening Bank Indonesia (SRBI) pada bulan April mencapai Rp 61,6 triliun. Selain itu, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup baik, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas tumbuh 10,9% secara tahunan hingga akhir Maret.
BI memprediksi bahwa tekanan musiman terhadap rupiah ini akan mereda, sehingga nilai tukar dapat kembali ke level fundamentalnya. Hal ini penting bagi stabilitas ekonomi domestik dan kepercayaan investor.