Istana Amantubillah Mempawah: Museum Kesultanan dengan Singgasana Tanpa Kursi dan Meriam Bertasbih

Penulis: Oman Sudirman  •  Senin, 25 Mei 2026 | 11:53:39 WIB
Istana Amantubillah di Mempawah kini berfungsi sebagai museum yang menampilkan warisan Kesultanan Mempawah.

MEMPAWAH — Di tepian Sungai Mempawah, Kalimantan Barat, sebuah istana berdiri kokoh dengan cat hijau muda yang mendominasi. Istana Amantubillah, bekas pusat Kesultanan Mempawah, bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah museum hidup yang menampilkan perpaduan tiga budaya dan benda-benda pusaka yang masih dirawat hingga kini.

Bangunan utama istana telah dialihfungsikan menjadi museum. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat langsung ruang privat keluarga kesultanan di masa lampau. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah singgasana sultan yang tidak berbentuk kursi, melainkan hamparan bantal-bantal berhias pernak-pernik indah.

Mengapa Sultan Mempawah Duduk di Atas Bantal?

Tidak adanya kursi singgasana di Istana Amantubillah bukan tanpa alasan. Bentuk hamparan bantal ini menyimbolkan bahwa raja tidak ingin menunjukkan jarak status dengan para pembantunya. Sultan memilih duduk sejajar agar selalu dekat dengan orang-orang yang membantunya memerintah.

Di ruang sayap kiri, tempat tidur raja masih tersimpan rapi lengkap dengan kelambu penutup. Sementara di ruangan utama, tergantung sebuah cermin besar pemberian Pemerintah Belanda kepada Sultan—salah satu bukti jejak kolonial di istana ini.

Meriam Sigonda: Pusaka Majapahit yang Dililit Tasbih

Keraton Mempawah menyimpan koleksi senjata pusaka yang legendaris. Di antaranya Keris dan Tombak Opu Daeng Manambon, Pedang Ranggalawe, Keris Syeh Yusuf, Mandau Panglima Ungie, hingga Pedang Samber Nyowo. Beberapa pusaka ini rutin "dimandikan" atau diarak keliling dalam prosesi upacara Robo-robo.

Yang paling ikonis adalah tiga meriam pusaka yang disebut "Tiga Sekeluarga": Meriam Sigonda (simbol laki-laki, berasal dari Majapahit), Meriam Raden Mas (simbol perempuan dari Bugis), dan Meriam Maryam yang diibaratkan sebagai anak keduanya. Meriam Sigonda tampak unik karena dililitkan tasbih—lambang ketaatan Opu Daeng Menambon terhadap Islam.

Masjid Jami' Keraton: Atap Segi Delapan di Tepi Sungai

Di lingkungan istana, terdapat Masjid Jami' Keraton Mempawah yang didirikan sekitar tahun 1912 pada masa Panembahan Muhammad Taufik Akkamadin. Masjid ini pernah dipindahkan tiga kali dan kini berada di Kampung Pedalaman, persis di tepian Sungai Mempawah.

Bangunan berukuran 40 x 30 meter ini menggunakan kayu besi atau kayu belian sebagai struktur dasar. Keunikannya terletak pada atap tumpang dua dengan struktur segi delapan yang menyisip di bagian tengah. Masjid yang didominasi warna hijau dan putih ini juga menyimpan jam dinding tua dan bedug yang hanya dipukul sebagai penanda waktu salat.

Sejarah Panjang: Dari Kebakaran Hingga Peresmian 1922

Istana Amantubillah awalnya dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril. Dalam perjalanannya, istana ini pernah terbakar hebat pada tahun 1880 ketika dipimpin Gusti Ibrahim. Setelah beberapa kali renovasi, bangunan yang ada sekarang diresmikan pada 2 November 1922 di masa pemerintahan Gusti Muhammad Taufik Akhamaddin.

Nama "Amantubillah" berasal dari bahasa Arab yang berarti "Aku beriman kepada Allah." Warna hijau muda yang mendominasi istana melambangkan kemakmuran dan identik dengan Islam. Di pintu gerbang, warna putih melambangkan kesucian, sementara kuning melambangkan kemuliaan keturunan Sultan. Ukiran mahkota raja di atas gerbang dan patung ayam jantan bertarung menegaskan kewibawaan dan keberanian sultan dalam menjaga wilayahnya.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top