PONTIANAK — Gubernur Kalbar Ria Norsan menekankan bahwa Pancasila harus menjadi pedoman hidup yang tercermin dalam tindakan nyata masyarakat, bukan sekadar simbol atau materi pelajaran. Menurutnya, nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan harus diwujudkan dalam aktivitas sehari-hari di kampung, kelurahan, hingga lingkungan RT/RW.
Ria Norsan mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjadikan Pancasila sebagai "living ideology" atau ideologi yang hidup. Ia mencontohkan semangat gotong royong saat warga membersihkan selokan, kerja bakti membangun posyandu, atau musyawarah di tingkat RT sebagai bentuk nyata pengamalan sila keempat dan kelima.
"Jangan sampai Pancasila hanya dihafal di upacara bendera, tapi tidak diamalkan saat tetangga kesusahan. Ini yang harus kita ubah," tegas Gubernur dalam sebuah forum diskusi kebangsaan di Pontianak, pekan lalu.
Dorongan ini juga dikaitkan dengan target Indonesia Emas 2045, di mana Kalbar diharapkan menjadi salah satu lumbung sumber daya manusia unggul. Ria Norsan menilai, kemajuan ekonomi dan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter bangsa.
Menurutnya, pemuda di Kalbar perlu dibekali pemahaman Pancasila yang aplikatif, seperti toleransi antarumat beragama di daerah perbatasan atau semangat kekeluargaan dalam mengelola UMKM. "Kalau Pancasila hidup, pembangunan tidak akan timpang. Semua warga merasa memiliki," ujarnya.
Seruan Gubernur diharapkan mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk mengintegrasikan nilai Pancasila dalam program pembangunan desa dan kelurahan. Misalnya, melalui musrenbang yang partisipatif atau alokasi dana desa untuk kegiatan gotong royong dan kerukunan warga.
Di tingkat sekolah, para guru diharapkan tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberi contoh langsung, seperti kegiatan bakti sosial atau diskusi kebangsaan antarsiswa lintas agama dan suku. Hal ini dinilai penting untuk membentuk generasi yang sadar akan keberagaman Kalbar.
Kelompok yang paling diuntungkan dari pengamalan Pancasila secara nyata adalah masyarakat akar rumput. Warga di daerah terpencil, petani, nelayan, dan pelaku UMKM di Kalbar akan merasakan langsung manfaat dari semangat gotong royong dan keadilan sosial, seperti akses bantuan sosial yang lebih merata atau pembangunan infrastruktur yang sesuai kebutuhan warga.
Gubernur Ria Norsan meminta agar gerakan membumikan Pancasila ini dimulai sekarang, tanpa menunggu instruksi formal dari pusat. Ia berharap setiap elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda, hingga perangkat desa, bisa menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing.
Masyarakat bisa mulai dengan hal sederhana: aktif dalam kegiatan kerja bakti, menghormati perbedaan pendapat saat musyawarah, atau membantu tetangga yang terkena musibah. Pemerintah provinsi juga akan menggencarkan sosialisasi melalui forum-forum warga dan media lokal agar pesan ini sampai ke seluruh pelosok Kalbar.