Laporan yang dirilis pekan ini oleh firma riset Juniper Research memberikan pukulan realistis bagi ambisi para operator seluler global. Mereka memperkirakan jumlah pengguna aktif bulanan layanan direct-to-cell (D2C) akan tumbuh dari 17,4 juta pada 2026 menjadi 133 juta pada 2031. Sekilas angka itu besar, tapi Juniper menyebutnya sebagai "kekecewaan" karena adopsi riil diprediksi jauh di bawah potensi teknis yang dimiliki teknologi ini.
Masalah utamanya terletak pada kasus penggunaan yang sempit. “Permintaan konsumen untuk D2C saat ini terkonsentrasi pada perjalanan spesifik, seperti ke taman nasional dan cagar alam, bukan pada penggunaan layanan seluler sehari-hari,” ujar Alex Webb, analis riset senior Juniper Research, dalam pernyataannya. Artinya, teknologi ini hanya menjadi "asuransi sinyal" yang diaktifkan saat benar-benar darurat di area terpencil.
Kondisi ini kontras dengan janji awal operator yang kerap memposisikan D2C sebagai solusi universal untuk daerah blank spot. Kenyataannya, di lingkungan urban yang padat—termasuk kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung—teknologi ini justru tidak berguna. Dinding tebal, ruang bawah tanah, dan halangan fisik lainnya tetap bisa mematikan sinyal. Tidak ada jumlah satelit orbit rendah yang bisa mengubah fakta fisika itu.
Soal harga, temuan GSMA sebelumnya memperkuat pesimisme ini. Sekitar 40 persen pelanggan ponsel menyatakan tidak mau membayar ekstra sama sekali untuk kemampuan satelit. Hanya 32 persen yang bersedia membayar premi maksimal 5 persen dari tagihan bulanan mereka. Di Indonesia, di mana sensitivitas harga masih tinggi, angka itu bisa jadi lebih rendah lagi.
Saat ini, sebagian besar layanan D2C masih terbatas pada pesan teks dan panggilan darurat. Layanan suara dan data penuh masih dalam tahap pengembangan. Vodafone memang berhasil melakukan panggilan video pertama lewat satelit menggunakan ponsel 4G/5G standar pada awal 2025, membuktikan bahwa secara teknis hal itu mungkin. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama: akankah cukup banyak pengguna yang peduli dan mau membayar?
Meski prospek suram, operator tetap melangkah. T-Mobile di AS sudah menawarkan layanan D2C melalui konstelasi Starlink milik SpaceX selama hampir setahun, menggunakannya sebagai umpan untuk menarik pelanggan dari jaringan pesaing. Di Inggris, Virgin Media O2 baru saja meluncurkan layanan O2 Satellite, sementara Vodafone bersiap menggelar uji coba musim panas ini.
Juniper memperkirakan kawasan Timur Jauh dan China akan menjadi pasar terbesar untuk layanan telepon satelit, disusul India. Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Eropa Barat diprediksi berbagi porsi yang lebih kecil dan hampir sama rata. Bagi Indonesia, yang memiliki geografi kepulauan ekstrem, potensi D2C memang ada—tapi selama harganya masih menjadi tembok dan sinyalnya mati di dalam mal atau apartemen, layanan ini akan tetap menjadi mimpi yang orbitnya terlalu jauh dari kenyataan. ®