KALIMANTAN BARAT — Waskita Karya tidak main-main dalam mengejar target pembangunan Sekolah Rakyat. Di Sulawesi Selatan saja, BUMN konstruksi ini mengerahkan 11.272 pekerja yang tersebar di lima lokasi berbeda. Hasilnya, progres fisik proyek tersebut sudah menembus 81,61 persen—angka yang jauh di atas rata-rata proyek infrastruktur sosial sejenis.
Proyek ini bukan hanya soal mendirikan tembok dan atap. Waskita merancang lima sekolah itu sebagai kompleks terpadu yang mencakup ruang belajar, asrama, laboratorium, serta fasilitas olahraga. Konsep ini sengaja dipilih agar siswa dari keluarga tidak mampu bisa tinggal dan belajar dalam satu lingkungan yang mendukung.
Manajer Proyek Waskita Karya di Sulsel, Andi Pratama, mengatakan percepatan dilakukan dengan sistem kerja bergilir. "Kami menerapkan dua shift per hari untuk mengejar target operasional tahun ajaran baru," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (17/4).
Kehadiran proyek ini langsung terasa di kantong warga. Dari 11.272 pekerja yang dikerahkan, sekitar 65 persen merupakan tenaga kerja lokal asal Sulawesi Selatan. Mereka bekerja sebagai tukang, operator alat berat, hingga tenaga administrasi proyek.
Bagi warga sekitar, proyek ini menjadi sumber penghasilan tambahan di tengah lesunya sektor lain. "Sejak proyek dimulai, omzet warung saya naik dua kali lipat karena banyak pekerja yang belanja di sini," ucap Sari, pemilik kedai di dekat lokasi pembangunan di Kabupaten Gowa.
Waskita menargetkan seluruh Sekolah Rakyat di Sulsel sudah beroperasi pada Juli 2026. Proyek ini dibiayai melalui skema Penyertaan Modal Negara (PMN) yang dialokasikan khusus untuk program pembangunan fasilitas pendidikan dasar dan menengah di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Selain Sulsel, Waskita juga menggarap proyek serupa di tiga provinsi lain, meskipun progresnya masih berada di kisaran 30-50 persen. Perusahaan berencana menambah alokasi pekerja jika cuaca ekstrem di lokasi lain mulai mereda.
Dengan capaian ini, Waskita Karya membuktikan bahwa BUMN konstruksi tidak hanya bisa diandalkan untuk membangun jalan dan jembatan, tetapi juga infrastruktur sosial yang menyentuh langsung masa depan anak-anak bangsa. Jika semua berjalan sesuai rencana, ribuan siswa dari keluarga prasejahtera akan segera memiliki akses ke pendidikan berkualitas tanpa biaya sepeser pun.