Ekonomi Pontianak Sudah Didominasi Jasa, Tapi Sektor Teknologi dan Kreatif Masih Tertinggal

Penulis: Luqman Arif  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 14:33:36 WIB
Suasana aktivitas perdagangan di kawasan pusat Kota Pontianak yang hingga kini masih mendominasi struktur ekonomi daerah.

PONTIANAK — Sektor perdagangan, jasa pendidikan, transportasi, informasi dan komunikasi, hingga administrasi pemerintahan selama ini mendominasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pontianak. Namun, di balik dominasi itu, struktur ekonomi kota ini dinilai belum sepenuhnya beranjak dari layanan tradisional menuju jasa modern berbasis teknologi dan kreativitas.

Analisis yang disusun Haris Zaky Mubarak, MA, menyebut pertumbuhan kota tidak ditentukan oleh besarnya investasi fisik semata. Justru keberagaman aktivitas ekonomi yang saling memperkuat—seperti layanan profesional, industri budaya, hingga pengembangan perangkat lunak—menjadi penentu daya tahan ekonomi sebuah kota.

Modal Sejarah yang Belum Dioptimalkan

Secara historis, Pontianak tidak pernah dilahirkan sebagai kota industri. Berdiri sejak 1771 di bawah Kesultanan Pontianak pimpinan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, kota ini tumbuh sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan jalur pelayaran internasional melalui Laut Natuna dan Selat Karimata. Sungai Kapuas menjadi infrastruktur utama jauh sebelum jalan raya dibangun.

Mosaik sosial yang terbentuk dari komunitas Melayu, Tionghoa, Dayak, Bugis, Arab, hingga Madura sejak abad ke-18 menjadi modal sosial yang kuat. Dalam konsep ekonomi jaringan yang dikemukakan Manuel Castells, kota yang berhasil di abad ke-21 bukan yang kaya sumber daya alam, melainkan yang mampu menjadi simpul arus informasi, modal, dan teknologi.

Jasa Berbasis Teknologi Masih Tumbuh Lambat

Tantangan terbesar Pontianak saat ini adalah diversifikasi sektor jasa. Aktivitas ekonomi masih didominasi perdagangan konvensional dan layanan pemerintahan. Sementara itu, jasa berbasis teknologi, ekonomi kreatif, konsultasi profesional, riset, desain, digital marketing, hingga industri budaya tumbuh relatif lambat dibandingkan kota-kota besar lain di Indonesia.

Kondisi ini berbanding lurus dengan kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kemampuan analitis, inovasi, literasi digital, serta penguasaan bahasa asing. Investasi pada pendidikan menjadi prasyarat mutlak agar pergeseran struktur ekonomi tidak hanya berhenti pada perubahan angka statistik, tetapi benar-benar meningkatkan produktivitas.

Kampus dan Pemda Kunci Percepatan Transformasi

Universitas Tanjungpura sebagai institusi pendidikan terbesar di Kalimantan Barat disebut memiliki peran sentral dalam membentuk modal manusia. Hubungan antara kampus, pemerintah daerah, dan dunia usaha menjadi faktor penentu apakah Pontianak mampu beranjak dari sekadar kota perdagangan menjadi kota jasa modern yang terhubung ke jaringan ekonomi global.

Tanpa kolaborasi itu, peluang besar yang dimiliki Pontianak—sebagai simpul perdagangan Sungai Kapuas dan pintu gerbang menuju Malaysia Timur—hanya akan menjadi potensi yang tidak pernah terwujud menjadi nilai tambah ekonomi yang nyata bagi warganya.

Reporter: Luqman Arif
Sumber: suarakalbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top