KALIMANTAN BARAT — Konteks pengujian: dua minggu pemakaian harian, kombinasi 60% dalam kota (macet) dan 40% jalan tol. Total jarak tempuh 420 km. Saya bandingkan langsung dengan PCX 160 generasi sebelumnya yang sempat saya pakai setahun, plus beberapa kali meminjam NMAX 155 punya teman untuk tes komparasi.
Secara visual, PCX 160 2026 nyaris tidak berubah dari versi 2024. Yang berbeda ada di detail: lampu DRL kini menyambung membentuk garis menyilang, dan panel instrumen LCD-nya sudah full digital. Kualitas build tetap menjadi standar kelas — panel rapat, cat doff-nya tidak gampang baret, dan joknya masih jadi yang paling empuk di antara kompetitor.
Posisi duduknya tinggi, tapi justru itu yang bikin pandangan ke depan luas. Buat pengendara di bawah 165 cm, jinjit itu pasti. Namun, setang yang lebar dan deck datar yang lega membuat manuver di kepadatan tetap terasa ringan.
Fitur andalan tetap ada: smart key system, Answer Back System, dan bagasi 30 liter yang muat satu helm full-face. Port USB-C di kompartemen depan jadi peningkatan yang saya tunggu — ngecas HP sambil bawa powerbank jadi lebih cepat.
Yang bikin saya mengernyit: Honda masih belum membenahi suspensi belakang. Di kecepatan 60-70 km/jam melewati polisi tidur, pantat tetap dapat hentakan yang cukup keras. Ini bukan masalah baru, tapi di harga segini saya berharap sudah ada adjustable preload yang benar-benar berfungsi.
Mesin 160cc eSP+ dengan 16 PS dan 15 Nm tetap jadi andalan. Awalnya saya mengira tenaganya akan terasa lebih galak dari versi lama, tapi kenyataannya justru sebaliknya. Di putaran bawah, respons gas terasa sedikit tumpul di 0-30 km/jam. Ini kemungkinan imbas dari penyetelan ulang untuk memenuhi emisi Euro 4 yang lebih ketat.
Kehalusan mesinnya tetap juara. Getaran di handlebar hampir tidak terasa sampai 100 km/jam. Di jalan tol, kecepatan 90-110 km/jam dicapai dengan tenang dan stabil. Cuma, untuk urusan akselerasi stop-and-go, NMAX 155 masih terasa lebih responsif dari posisi diam.
Ini bagian yang paling mengecewakan. Klaim pabrikan menyebut 46 km/liter, tapi dalam pengujian saya dengan metode full-to-full, hasilnya hanya 38,2 km/liter di kombinasi dalam-luar kota. Untuk perbandingan, PCX 160 versi 2024 yang pernah saya pakai rutin bisa mencapai 42-44 km/liter di rute yang sama.
Untuk pemakaian harian 30 km, selisih 4-5 km/liter berarti tambahan biaya sekitar Rp 15.000-20.000 per minggu. Bukan angka yang besar, tapi cukup terasa kalau dipakai harian dan harga Pertamax sudah tembus Rp 12.500 per liter.
Setelah dua minggu, ini ringkasannya:
PCX 160 2026 tetap jadi skutik premium paling nyaman untuk perjalanan jauh. Buat yang tiap hari tempuh 50+ km di jalan tol, ini masih pilihan terbaik di kelasnya. Tapi buat pengguna yang lebih sering stop-and-go di dalam kota dan sensitif soal pengeluaran BBM bulanan, NMAX 155 dengan konsumsi 40-42 km/liter dan harga lebih murah Rp 2-3 juta jadi pertimbangan yang lebih rasional.
Honda jelas mengorbankan efisiensi demi kepatuhan emisi, dan itu keputusan yang bisa dipahami. Hanya saja, konsumen yang membayar Rp 33,5 juta berhak mendapat kompensasi berupa penyempurnaan lain — yang sayangnya tidak banyak berubah di model ini.