Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalbar, M. Hermayani Putera, menyoroti ledakan titik panas di Kalbar. Jumlahnya melonjak dari 3.371 menjadi 6.050 hanya dalam sehari, hingga 29 Agustus 2026. Konsentrasi tertinggi terdeteksi di Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Melawi.
"Lonjakan tersebut terjadi hanya dalam satu hari dan mencapai hampir dua kali lipat. Konsentrasi titik panas tertinggi berada di Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Melawi," kata Hermayani, Minggu (30/8/2026).
Data pantauan satelit polar NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA pada 28-29 Agustus 2026 pukul 00.00-16.00 WIB mencatat kenaikan signifikan. Sebanyak 3.371 hotspot terdeteksi pada 28 Agustus, lalu membengkak menjadi 6.050 titik panas keesokan harinya.
Wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi tersebut mayoritas merupakan kawasan ekosistem gambut. Akibatnya, karhutla melahirkan asap tebal beracun yang mengancam kesehatan dan merusak ruang hidup warga.
"Kondisi gambut sangat rentan terhadap kebakaran bawah tanah atau sub-surface fire yang berbahaya dan sulit dipadamkan," ujarnya.
Hermayani memperingatkan tren peningkatan titik panas ini berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. MLH PWM Kalbar pun telah berkomunikasi dengan kelompok masyarakat sipil, praktisi lingkungan, dan perwakilan komunitas untuk merumuskan langkah respons.