PONTIANAK — Wakil Wali Kota Pontianak yang hadir dalam kegiatan menyebut operasi pasar murah sebagai upaya membantu meringankan beban masyarakat, khususnya keluarga menengah ke bawah, di tengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Pasar murah digelar di halaman kantor kecamatan, bukan di balai kota, agar warga bisa menjangkau langsung.
Antusiasme warga terlihat dari kepadatan halaman kantor camat sejak pagi. Sejumlah komoditas dijual di bawah harga pasar, sehingga warga berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok sehari-hari.
Wakil wali kota menjelaskan sejumlah faktor memengaruhi kenaikan harga komoditas. Kemarau panjang dan kabut asap disebut menjadi pemicu utama, ditambah potensi keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM).
“Ini adalah agenda Pemerintah Kota Pontianak untuk membantu meringankan masyarakat, terutama keluarga menengah ke bawah. Alhamdulillah, antusiasmenya cukup luar biasa. Memang pada bulan-bulan ini ada sedikit kenaikan harga beberapa komoditas. Mudah-mudahan agenda ini bisa berdampak meringankan masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Pemerintah kota, lanjutnya, terus berupaya mengendalikan inflasi agar kenaikan harga kebutuhan pokok tidak semakin membebani warga. Puncak keterbatasan BBM diperkirakan terjadi pada November, sehingga Pemkot Pontianak menyiagakan langkah antisipasi.
“Insya Allah, kami Pemerintah Kota Pontianak terus berikhtiar bagaimana menekan inflasi semaksimal mungkin. Memang banyak faktor, seperti kemarau panjang dan kabut asap, sehingga beberapa komoditas mengalami kenaikan. Bahkan, dengan terbatasnya BBM yang dimungkinkan puncaknya November, kami harus siaga bagaimana menekan harga pokok di Kota Pontianak,” katanya.
Selain operasi pasar murah, Pemkot Pontianak menyiapkan bantuan beras melalui program cadangan pangan. Anggaran yang dialokasikan sekitar Rp500 juta untuk tahun 2026, menyasar masyarakat yang membutuhkan.
Program tersebut dilengkapi bantuan dari pemerintah pusat. Wakil wali kota menyebut dua skema bantuan itu berjalan bersamaan untuk memperluas cakupan penerima.
“Selain pasar murah, ada juga bantuan beras cadangan pangan yang memang kita alokasikan kurang lebih Rp500 juta untuk tahun 2026, termasuk juga program dari pemerintah pusat,” tuturnya.
Sejumlah warga yang ditemui di lokasi mengaku terbantu dengan harga yang lebih rendah dari pasar. Mereka berharap kegiatan serupa digelar lebih sering, terutama menjelang akhir tahun ketika kebutuhan pokok biasanya meningkat.
Pemkot Pontianak belum menyebut jadwal operasi pasar murah berikutnya. Namun pemerintah kota memastikan program cadangan pangan dan pasar murah akan terus dijalankan sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.