Pencarian

Pangsa Pasar 18,34 Persen, Jaecoo J5 Kembali Jadi Raja Mobil Listrik April 2026

Rabu, 13 Mei 2026 • 11:31:56 WIB
Pangsa Pasar 18,34 Persen, Jaecoo J5 Kembali Jadi Raja Mobil Listrik April 2026
Jaecoo J5 kembali menjadi mobil listrik terlaris dengan pangsa pasar 18,34 persen pada April 2026.

KALIMANTAN BARAT — Angka distribusi wholesales mobil nasional pada April 2026 mencapai 80.776 unit, tumbuh 31,8 persen dibandingkan Maret 2026. Dari jumlah tersebut, kendaraan listrik berbasis baterai menyumbang 14.815 unit. Dengan begitu, rasio elektrifikasi terhadap total pasar domestik kini berada di angka 18,34 persen — level tertinggi sepanjang sejarah penjualan mobil di Indonesia.

Pertumbuhan ini terjadi setelah pasar sempat melambat selama masa libur Lebaran. Kenaikan volume distribusi menunjukkan rantai pasok dan permintaan kembali normal. Namun yang lebih menarik adalah komposisi pemain di papan atas: merek asal China mendominasi tanpa perlawanan berarti dari pabrikan Jepang atau Eropa.

Jaecoo J5 dan BYD M6: Dua Kutub Permintaan

Jaecoo J5 kembali mempertahankan posisi sebagai mobil listrik terlaris dengan distribusi 3.179 unit. Model ini unggul tipis dari BYD M6 yang mencatat 2.472 unit — melonjak drastis dari 523 unit pada Maret 2026. Lonjakan BYD M6 menunjukkan segmen MPV listrik tujuh penumpang mulai mendapat tempat di hati konsumen Indonesia yang selama ini setia dengan Toyota Innova atau Mitsubishi Xpander.

Di posisi ketiga, BYD Sealion 07 mencatat 1.617 unit. Disusul Geely EX2 dengan 1.042 unit dan Denza D9 yang menembus 1.032 unit. Satu nama yang justru ambrol adalah BYD Atto 1 — sebelumnya sempat menjadi primadona — yang hanya terjual 108 unit pada April 2026. Penurunan ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen ke model yang lebih besar atau lebih baru.

Mengapa Pasar Berubah Cepat?

Secara kumulatif, distribusi mobil listrik Januari–April 2026 mencapai 47.781 unit, naik 89,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 25.231 unit. Pertumbuhan hampir dua kali lipat dalam satu tahun bukan sekadar efek harga murah. Ada tiga faktor struktural yang bekerja bersamaan: pertama, ekspansi jaringan pengisian daya oleh berbagai operator; kedua, insentif PPnBM yang masih berlaku untuk kendaraan listrik; ketiga, masuknya model-model dengan harga di bawah Rp 400 juta yang langsung menyasar kelas menengah.

Produsen Jepang seperti Toyota dan Honda masih belum memiliki model listrik murni yang kompetitif di segmen harga ini. Akibatnya, peta persaingan berubah total: dari pertarungan antar merek Jepang menjadi dominasi merek China yang bergerak lebih cepat dalam elektrifikasi.

Apa Artinya bagi Konsumen?

Dengan pangsa 18,34 persen, mobil listrik bukan lagi barang eksklusif. Konsumen kini punya lebih dari sepuluh pilihan model di bawah Rp 500 juta. Namun tantangan tetap ada: infrastruktur pengisian daya di luar Jawa masih terbatas, dan nilai residu mobil listrik bekas belum teruji karena pasar sekunder masih sangat muda. Bagi yang tinggal di kota besar dengan akses pengisian daya di rumah, beralih ke mobil listrik mulai masuk akal secara ekonomi.

FAQ

Apakah insentif mobil listrik masih berlaku di 2026?
Pemerintah masih memberikan insentif PPnBM 0 persen untuk mobil listrik murni yang memenuhi syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri tertentu. Detail terbaru bisa dicek di laman Kementerian Perindustrian.

Merek China dominan, apakah ada mobil listrik Jepang atau Eropa yang laris?
Hingga April 2026, belum ada model listrik dari Toyota, Honda, atau merek Eropa yang masuk jajaran lima besar penjualan. Hyundai Ioniq 5 dan Kia EV6 masih bertahan di segmen atas tapi volumenya jauh di bawah Jaecoo atau BYD.

Bagikan
Sumber: otomotif.kompas.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks