PONTIANAK — Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, mendorong warga untuk menjadikan gerakan satu rumah satu pohon sebagai budaya, bukan sekadar seremonial. Menurutnya, pohon berfungsi sebagai "AC alami" yang mampu menyejukkan suhu Kota Pontianak yang cenderung panas.
Mengapa Satu Pohon per Rumah Dianggap Penting?
Bahasan menjelaskan bahwa langkah kecil ini menjadi penting di tengah tantangan perubahan iklim yang dampaknya sudah dirasakan langsung. “Nah ini kalau ada satu pohon satu rumah. Insyaallah ini makin menambah untuk kesejukan,” ujarnya dalam sambutan.
Ia juga mengingatkan warga untuk mengurangi penggunaan plastik dan disiplin membuang sampah pada waktu yang telah ditentukan, yakni pukul 18.00 hingga 06.00 WIB.
Membuang Sampah ke Parit Dinilai Perbuatan Tercela
Dalam kesempatan itu, Bahasan menyentuh aspek religius dan sosial. Ia menegaskan bahwa membuang sampah sembarangan, terutama ke parit, adalah perbuatan tercela yang merugikan banyak orang dan dalam pandangan agama dilarang.
“Merawat lingkungan dan menjaga selokan agar tidak tersumbat itu lebih mulia daripada membangun gedung-gedung tinggi namun lingkungannya tercemar dan tidak sehat,” tegasnya.
TPA Batulayang Beralih ke Sistem Sanitary Landfill
Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Saat ini, pengelolaan sampah di TPA Batulayang telah beralih ke sistem sanitary landfill dan upaya menutup zona open dumping terus dilakukan.
Tak hanya itu, Pemkot Pontianak mengembangkan program Local Service Delivery Environment Project (LSDP) yang bekerja sama dengan Bank Dunia. Program ini mengubah sampah menjadi barang bernilai guna, seperti kompos dan gas dari sampah organik melalui biodigester, serta konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) melalui sistem pirolisis.
ASN Diminta Jadi Pelopor Edukasi Lingkungan
Di akhir sambutannya, Bahasan mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Pontianak untuk menjadi pelopor dalam mengedukasi masyarakat. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan harus menjadi budaya, bukan sekadar seremonial belaka.
Kegiatan kemudian ditutup dengan aksi penanaman pohon bersama sebagai simbol keberlanjutan gerakan penghijauan di Kota Pontianak.