KALIMANTAN BARAT — Kabar ini disampaikan oleh jurnalis Bloomberg, Mark Gurman, dalam buletin "Power On" terbarunya. Menurut Gurman, kenaikan harga untuk iPhone "tetap tidak terhindarkan" karena Apple menghadapi masalah rantai pasokan yang sama seperti produk lainnya. Kabar ini tentu menjadi perhatian bagi calon pembeli di Indonesia, mengingat harga iPhone di Tanah Air sudah dibebani pajak dan bea masuk yang membuatnya jauh lebih mahal dari harga global.
Berapa Estimasi Kenaikan Harganya?
Gurman menyebut Apple tengah memantau respons Samsung dan Google terhadap kenaikan biaya komponen. Kedua raksasa teknologi itu telah menaikkan harga ponsel flagship terbaru mereka sekitar US$100 (sekitar Rp 1,65 juta). Jika Apple mengikuti langkah serupa, harga iPhone 18 Pro diprediksi naik dari US$1.099 menjadi US$1.199, atau melonjak sekitar 9 persen.
Di pasar Indonesia, kenaikan US$100 ini berpotensi menambah beban harga hingga lebih dari Rp 2 juta setelah memperhitungkan pajak dan margin distributor. Estimasi ini bisa membuat harga iPhone 18 Pro di gerai resmi tembus di atas Rp 25 juta untuk varian dasar.
Mengapa Apple Tidak Menaikkan Harga Lebih Drastis?
Menariknya, kenaikan US$100 ini justru disebut Gurman sebagai langkah "yang cukup moderat" mengingat parahnya krisis pasokan memori global. Artinya, Apple kemungkinan besar menyerap sebagian biaya produksi tambahan demi menjaga daya saing. Indikasinya terlihat dari peringatan Apple soal tekanan pada margin kotor (gross margin) kuartal ini—sinyal bahwa perusahaan tidak membebankan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen.
Keputusan ini juga tampaknya diambil untuk menghindari "sticker shock" yang terjadi pada lini Mac dan iPad. Kenaikan yang terlalu tinggi berisiko membuat iPhone kehilangan daya tarik dibanding harga Samsung yang kini berada di level serupa. Lagipula, basis pengguna iPhone yang loyal memberi Apple ruang untuk menaikkan harga lebih agresif di masa depan.
Program Langganan Bisa Jadi Penyelamat
Untuk meredam dampak kenaikan harga, Apple disebut akan mengandalkan program langganan Apple Upgrade. Skema ini memungkinkan pembeli membayar biaya perangkat secara bulanan, sehingga beban finansial di awal pembelian menjadi lebih ringan dibanding membayar lunas sekaligus. Bagi konsumen Indonesia, program ini belum tersedia secara resmi, namun bisa menjadi pertimbangan jika Apple membawanya ke pasar lokal.
Yang perlu dicermati adalah pola kenaikan harga ini bukan sekali jalan. Jika krisis komponen berlanjut, bukan tidak mungkin Apple akan kembali menyesuaikan harga pada generasi berikutnya. Bagi yang berencana membeli iPhone 17 Pro, kondisi pasar saat ini justru bisa menjadi momen yang tepat sebelum harga resmi generasi baru diumumkan.