KAYONG UTARA — Kebakaran hutan dan lahan di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, tidak hanya mengancam kawasan hutan dan permukiman. Api juga memutus akses satwa liar menuju habitatnya, membuat enam orangutan terjebak di perkebunan campuran milik warga.
Operasi penyelamatan digelar dua kali. Pada 4 September 2026, tim menyelamatkan empat individu: Naufal, Nopan, Mama Nopi, dan anaknya Nopi. Empat hari berselang, tim kembali turun setelah menerima laporan keberadaan Mama Noni bersama anaknya, Noni, di kawasan yang sama.
Penyelamatan melibatkan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia. Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa Pemangkat, masyarakat, dan pemilik kebun turut mendukung proses evakuasi.
Jalur ke Hutan Terputus, Orangutan Berpindah dari Kebun ke Kebun
Keberadaan keenam satwa diketahui setelah patroli dan pemantauan BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI sejak 1 September 2026. Tim sebelumnya menerima laporan orangutan yang bergerak di sekitar perkebunan warga.
Hasil pemantauan menunjukkan jalur menuju blok hutan yang masih tersisa telah terputus akibat karhutla. Sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan terdapat titik kebakaran yang cukup besar.
Orangutan akhirnya berpindah dari satu kebun ke kebun lain untuk mencari makanan sekaligus tempat berlindung. Kondisi itu memperbesar risiko konflik dengan manusia, di samping ancaman langsung dari api dan asap, keterbatasan pakan, serta ruang jelajah yang makin sempit.
"Yang kami khawatirkan bukan hanya ketika api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses mereka menuju hutan. Mereka akhirnya terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung," kata Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting.
Argitoe menyebut patroli dan pemantauan akan terus dilakukan selama karhutla masih berlangsung. Tim juga merespons setiap laporan orangutan yang keluar dari habitat atau berada di kawasan terancam kebakaran.
Nopan dan Mama Noni Sempat Alami Suhu Tubuh Tinggi
Selama evakuasi, tim medis menggunakan obat bius dengan dosis terukur untuk memastikan penanganan dan pemindahan satwa berlangsung aman.
Pemeriksaan awal menunjukkan Naufal dan Mama Nopi dalam kondisi umum baik, tanpa luka maupun kelainan fisik signifikan. Nopan sempat mengalami peningkatan suhu tubuh hingga 40 derajat Celsius. Setelah mendapat penanganan medis dan cairan infus, suhu tubuhnya kembali normal.
Mama Noni yang dievakuasi pada 8 September 2026 diperkirakan berusia 13–15 tahun. Saat pemeriksaan, suhu tubuhnya mencapai 39,4 derajat Celsius dan ia mengalami pernapasan cepat. Tim medis memberikan cairan infus, oksigen, dan kompres untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Anak yang dibawanya, Noni, diperkirakan baru berusia 1–2 bulan dan masih terus menyusu kepada induknya. Kondisinya dipantau ketat karena usianya sangat muda dan sepenuhnya bergantung pada induk.
Menunggu Habitat Aman untuk Pelepasliaran
Keenam orangutan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemantauan dan perawatan. Tim juga terus memantau perkembangan karhutla serta kondisi habitat di sekitar lokasi asal satwa.
Apabila kondisi lingkungan dinilai aman dan tersedia habitat yang sesuai, tim akan melakukan penilaian untuk menentukan lokasi pelepasliaran kembali ke alam.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyatakan pihaknya mendukung langkah pemerintah dalam menyelamatkan satwa terdampak karhutla.
"Kami siap mendukung BKSDA melalui keahlian dan sumber daya yang kami miliki, khususnya dalam penyelamatan dan penanganan orangutan serta satwa liar lainnya yang berada dalam kondisi terancam," ujarnya.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyatakan karhutla mengganggu akses satwa liar terhadap sumber pakan dan ruang jelajah. Ia meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa yang berada di kawasan terancam kebakaran.