PONTIANAK — Rektor UPB Pontianak, Dr. Purwanto, S.H., M.Hum., FCBArb., FIIArb., menegaskan bahwa ekonomi hijau berkaitan erat dengan isu keberlanjutan, lingkungan hidup, dan perubahan iklim. Menurutnya, persoalan tersebut sangat relevan dengan kondisi Kalimantan Barat yang kaya sumber daya alam namun menghadapi tantangan ekologis.
Diskusi yang biasanya digelar sehari sebelum wisuda kali ini dimajukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca ekstrem. Selain Deni Friawan dari CSIS, hadir sebagai narasumber Rita Hastita, S.Sos., M.Si.; Irfan Khaerawan, S.P.; Prof. Dr. Eni Rosalina, S.Hut., M.Si.; dan Prof. Dr. Ir. Aguslim Masulili, M.P. Diskusi dipandu jurnalis TVRI Kalbar, Romdhon, S.Sos.I.
Mengapa Isu Ekonomi Hijau Relevan bagi Kalimantan Barat
Purwanto menjelaskan bahwa kondisi lingkungan tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga aktivitas manusia. Karena itu, diperlukan kesadaran dan langkah bersama untuk merespons berbagai tantangan lingkungan di daerah.
"Kalau kita berbicara tentang ekonomi hijau, tentu sangat berkaitan dengan isu-isu keberlanjutan, lingkungan hidup, perubahan iklim dan lain sebagainya. Apalagi kalau kita melihat kondisi Kalimantan Barat," ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan Kalimantan Barat sebagai wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus menghadapi tekanan ekologis. Isu transisi ekonomi hijau pun dinilai tidak bisa dilepaskan dari konteks lokal daerah.
Mahasiswa Dinilai Punya Peran Strategis dalam Transisi Ekonomi Hijau
Purwanto berharap diskusi ilmiah tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, melainkan mendorong lahirnya tindakan nyata. Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis karena akan menghadapi perubahan sekaligus menjadi bagian dari kepemimpinan dan pembangunan Indonesia pada masa mendatang.
"Mahasiswa yang sekarang ini ke depannya akan melakukan perubahan dan sekaligus menjadi pemimpin masa depan. Karena itu, mereka harus dipersiapkan kompetensi dan kapasitasnya," katanya.
Persiapan itu, lanjut Purwanto, tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Mahasiswa juga perlu mendapat ruang untuk berdiskusi, berkolaborasi, berinovasi, dan terlibat dalam upaya menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Kolaborasi Lintas Pihak Jadi Kunci Perubahan
Rektor UPB Pontianak juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam transisi menuju ekonomi hijau. Menurutnya, perubahan tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu kelompok saja.
"Perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Yang paling penting ke depan adalah bagaimana membangun kolaborasi," ujarnya.
Kolaborasi yang dimaksud melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, masyarakat, dan generasi muda. Kampus diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan gagasan, pengetahuan, dan praktik untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, UPB mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga berperan dalam proses perubahan. Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan dinilai bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga lingkungan dan kualitas hidup generasi mendatang.