PONTIANAK — Kepala Bapperida Provinsi Kalimantan Barat Linda Purnama memimpin rapat program prioritas kajian Bluebook Infrastruktur di Ruang Audio Visual Bapperida Kalbar, Rabu, 30 September 2026. Rapat itu diikuti perangkat daerah terkait, akademisi, peneliti, perekayasa, serta perencana di lingkungan Bapperida.
Agenda utamanya menentukan program infrastruktur prioritas yang akan dikaji sebagai bagian dari dokumen Bluebook. Proyek yang masuk dokumen tersebut diharapkan disiapkan lebih komprehensif, terutama dari sisi kelayakan pembiayaan.
Kebutuhan Infrastruktur Kalbar Lampaui Kapasitas APBD
Linda menyebut pembangunan infrastruktur menjadi salah satu fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing daerah, dan memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan dasar.
Namun, kebutuhan pembangunan infrastruktur di Kalimantan Barat masih cukup besar. Di sisi lain, kemampuan fiskal pemerintah daerah terbatas untuk membiayai seluruh program prioritas hanya melalui APBD.
Dukungan pendanaan dari APBN juga semakin selektif karena harus mengakomodasi kebutuhan pembangunan di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi itu yang mendorong Pemprov Kalbar menyiapkan strategi pembiayaan lebih inovatif.
Bluebook Jadi Pintu Masuk Kerja Sama Pembangunan
Bluebook Infrastruktur berisi dokumen kajian yang memuat usulan proyek-proyek infrastruktur prioritas. Proyek tersebut dipersiapkan secara komprehensif dan diarahkan memenuhi aspek kelayakan untuk memperoleh dukungan pembiayaan dari berbagai sumber.
Dengan pendekatan itu, pembiayaan pembangunan tidak hanya mengandalkan APBD dan APBN. Pemprov Kalbar membuka peluang melalui kerja sama pembangunan, lembaga pembiayaan, maupun mitra pembangunan lainnya.
Siapa Saja yang Terlibat dalam Kajian
Rapat tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kalbar Dr. Vincencia Septaviani Issera Sulistya P., S.Hut., M.P., serta Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kalbar.
Hadir pula perwakilan Dinas PUPR dan Dinas Perhubungan Provinsi Kalbar, akademisi Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura, dan para peneliti, perekayasa, serta perencana Bapperida Kalbar.
Keterlibatan lintas instansi dan kalangan akademisi itu menjadi bagian dari upaya memastikan proyek yang masuk Bluebook benar-benar layak secara teknis maupun finansial sebelum diajukan ke sumber pembiayaan.