Pencarian

Empat Bank BUMN Kompak Pangkas Harga Jual Dolar AS, Rupiah Kian Perkasa di Awal Pekan

Senin, 22 Juni 2026 • 12:45:31 WIB
Empat Bank BUMN Kompak Pangkas Harga Jual Dolar AS, Rupiah Kian Perkasa di Awal Pekan
Empat bank BUMN serentak menurunkan harga jual dolar AS, mendukung penguatan rupiah.

KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data yang dihimpun dari laman resmi masing-masing bank, seluruh emiten perbankan pelat merah tersebut memangkas harga jual dolar AS dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Penurunan berkisar antara Rp 25 hingga Rp 50 per dolar AS, tergantung kebijakan masing-masing bank.

Perbandingan Harga Jual Dolar AS di Empat Bank BUMN

Berikut rincian harga jual (sell) dan harga beli (buy) dolar AS yang berlaku di BCA, BRI, Mandiri, dan BNI pada hari ini:

  • BCA: Harga jual Rp 16.350, harga beli Rp 16.150.
  • BRI: Harga jual Rp 16.360, harga beli Rp 16.210.
  • Mandiri: Harga jual Rp 16.350, harga beli Rp 16.200.
  • BNI: Harga jual Rp 16.355, harga beli Rp 16.205.

Selisih antara harga jual dan beli (spread) di masing-masing bank masih terjaga di kisaran Rp 150–200. Spread ini merupakan keuntungan yang diperoleh bank dari transaksi valuta asing.

Mengapa Rupiah Menguat? Dua Faktor Utama di Balik Pergerakan

Penguatan rupiah pada awal pekan ini tidak lepas dari sentimen global dan domestik. Dari eksternal, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama.

Sementara dari dalam negeri, aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih deras. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat investor asing membukukan net buy di pasar SBN hingga Rp 4,7 triliun pada pekan lalu. Ini menjadi katalis positif bagi nilai tukar rupiah.

Apa Artinya Bagi Pelaku Bisnis dan Investor?

Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan greenback ini menjadi kabar baik. Biaya pengadaan barang dari luar negeri menjadi lebih murah jika dihitung dalam rupiah. Sebaliknya, eksportir yang menyimpan pendapatan dalam dolar AS akan menerima lebih sedikit rupiah saat melakukan konversi.

Investor di pasar saham juga patut mencermati tren ini. Penguatan rupiah kerap menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten yang memiliki utang dalam dolar AS atau yang mengimpor bahan baku, seperti sektor konsumer dan manufaktur. Namun, sektor komoditas tambang yang pendapatannya dalam dolar AS bisa mengalami tekanan laba akuntansi.

Disclaimer: Fluktuasi nilai tukar bersifat dinamis. Harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.

Bagikan
Sumber: finansial.bisnis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks