KALIMANTAN BARAT — Di tengah persaingan sengit yang melibatkan 109 perusahaan Indonesia dalam daftar 500 korporasi terbesar Asia Tenggara, Hutama Karya justru menunjukkan performa di atas rata-rata kompetitornya. Bukan hanya dari sisi pendapatan, perusahaan ini unggul dalam metrik kualitas keuangan yang menjadi tolok ukur investor. Berdasarkan data Fortune, Hutama Karya berada di peringkat ke-167 untuk kategori laba dan peringkat ke-114 untuk total aset—jauh lebih baik dibandingkan peringkat pendapatannya yang berada di posisi 206.
Kinerja Keuangan Solid: Pendapatan Rp25 Triliun, Margin Laba 12 Persen
Sepanjang tahun fiskal 2025, Hutama Karya membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp25,13 triliun atau setara USD1.527,3 juta. Namun yang lebih menarik adalah lonjakan laba bersih yang tumbuh 15,9 persen menjadi Rp3,08 triliun (USD200 juta). Pertumbuhan laba yang signifikan ini tidak terlepas dari penajaman fokus bisnis dan efisiensi operasional yang dijalankan manajemen.
Alhasil, margin laba bersih perusahaan menguat ke kisaran 12 persen. Angka ini menandakan struktur permodalan yang semakin sehat dan memberi ruang lebih besar bagi Hutama Karya untuk membiayai proyek-proyek strategis jangka panjang. Total aset perusahaan pun mencapai Rp189,09 triliun (USD11.343,6 juta), memperkuat fondasi neraca di papan atas kawasan.
Pengakuan di Forum CEO Asia Tenggara
Pencapaian ini mendapatkan pengakuan langsung di forum eksklusif yang digelar Fortune bersama Danantara Indonesia, yang mempertemukan 40 hingga 50 CEO dan CXO perusahaan unggulan Indonesia. Dalam acara tersebut, sertifikat penghargaan diserahkan langsung oleh Asia CEO Fortune, Khoon Fong Ang, bersama Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief.
Posisi Hutama Karya di Fortune Southeast Asia 500 menjadi bukti bahwa BUMN konstruksi Indonesia mampu bersaing tidak hanya dalam skala usaha, tetapi juga dalam hal profitabilitas dan pengelolaan aset. Di level nasional, perusahaan ini menempati peringkat ke-16 di antara seluruh BUMN dan ke-40 dari total perusahaan Indonesia lintas industri yang masuk daftar.
Konsistensi Hutama Karya dalam pemeringkatan Fortune sejak 2024 menegaskan bahwa daya tahan perusahaan tidak hanya diuji oleh besarnya pendapatan, melainkan juga oleh kemampuan mencetak laba dan mengelola aset secara efisien—sebuah modal penting untuk menghadapi persaingan infrastruktur di Asia Tenggara yang semakin ketat.