KALIMANTAN BARAT — TikTok sudah lama dikenal sebagai raksasa media sosial, tapi kini identitas itu mulai terasa sempit. Dalam beberapa tahun terakhir, aplikasi milik ByteDance ini perlahan menambahkan fitur-fitur yang mengarah pada model super app — satu platform yang bisa menangani berbagai kebutuhan digital pengguna tanpa harus pindah aplikasi. Langkah terbaru mereka meliputi layanan pemesanan hotel, pengajuan lisensi fintech, hingga hub olahraga khusus.
Booking Hotel dan Tiket Wisata Langsung di Aplikasi
Pada Mei lalu, TikTok meluncurkan TikTok GO di Amerika Serikat, fitur yang memungkinkan pengguna menemukan dan memesan hotel, atraksi, serta pengalaman wisata langsung dari dalam aplikasi. Tidak seperti sebelumnya yang hanya mengarahkan ke situs pihak ketiga, kini proses booking bisa selesai tanpa meninggalkan TikTok.
Fitur ini memanfaatkan video, pencarian, dan halaman lokasi untuk menampilkan rekomendasi. Ketika pengguna menemukan destinasi atau penginapan yang menarik, mereka bisa melihat detail, mengecek ketersediaan, dan menyelesaikan pemesanan. Ini menempatkan TikTok sebagai pesaing langsung Google Search dan Google Maps — tidak hanya sebagai tempat mencari rekomendasi, tapi juga sebagai platform transaksi.
TikTok Shop: Pertumbuhan 407% dan Ekspansi ke Barang Mewah
Salah satu lompatan terbesar TikTok keluar dari zona media sosial adalah TikTok Shop. Diluncurkan di AS pada 2023, platform belanja ini langsung bersaing dengan Amazon dan Shein. Data eMarketer menunjukkan penjualan TikTok Shop di AS tumbuh 407% pada 2024 dan 108% pada 2025, mencapai total 15,82 miliar dolar AS.
Kini TikTok Shop tidak hanya menjual barang murah. Pada akhir tahun lalu, mereka meluncurkan gift card dan mulai merambah ritel mewah. Pangsa pasar social commerce TikTok di AS saat ini mencapai 18,2% dan diperkirakan naik ke 24,1% pada 2027.
Langkah Menuju Layanan Keuangan
Pada Maret lalu, Reuters melaporkan bahwa TikTok mengajukan izin ke bank sentral Brasil untuk beroperasi sebagai perusahaan teknologi finansial. Mereka mengincar dua lisensi: satu untuk menyediakan akun prabayar bagi pengguna menyimpan dana, menerima uang, dan melakukan pembayaran; satu lagi untuk menjadi penyedia kredit langsung atau platform yang menghubungkan peminjam dengan pemberi pinjaman.
Jika disetujui, langkah ini akan membawa TikTok lebih jauh ke dalam ekosistem digital — meningkatkan keterlibatan pengguna sekaligus membuka aliran pendapatan baru yang bersaing dengan startup fintech dan platform e-commerce.
Olahraga: Hub Khusus Piala Dunia dan Konten Eksklusif
TikTok juga serius membangun diri sebagai destinasi konten olahraga. Awal Juni, mereka meluncurkan hub khusus FIFA World Cup yang menampilkan skor, jadwal pertandingan, klasemen, video trending, sorotan pertandingan, dan konten dari pemain. Semua bisa diakses tanpa keluar aplikasi atau membuka aplikasi berita olahraga terpisah.
Fitur ini didukung produk bernama TikTok GamePlan, yang dirancang untuk tim, liga, dan penyiar olahraga. TikTok juga punya kemitraan dengan Major League Soccer (MLS) dan Major League Baseball (MLB) untuk konten eksklusif di balik layar.
Catatan: TikTok Music Gagal, Fokus Kembali ke Kemitraan
Tidak semua ekspansi berjalan mulus. Pada 2023, TikTok meluncurkan layanan streaming musik TikTok Music untuk menyaingi Spotify dan Apple Music. Namun layanan ini ditutup setahun kemudian. Perusahaan memilih kembali fokus pada kemitraan dengan platform streaming yang sudah ada dan tetap menjadi mesin penemuan musik bagi industri.
Dengan semua langkah ini, TikTok jelas tidak ingin hanya menjadi tempat scroll video. Mereka ingin menjadi pintu gerbang digital tempat pengguna berbelanja, bepergian, bertransaksi, menonton olahraga, dan mencari informasi — semuanya dalam satu aplikasi. Pertanyaannya sekarang: apakah model super app yang sukses di China ini akan berhasil di pasar global? TikTok tampaknya siap menjawabnya dengan modal dan eksperimen yang agresif.