KALIMANTAN BARAT — Pernyataan keras itu disampaikan Ben-Gvir dalam wawancara dengan televisi Israel, Channel 7, pada Rabu (24/6/2026). Ia menegaskan bahwa Israel tidak bisa terus bergantung pada kebijakan luar negeri sekutunya sendiri.
"Tidak Ada Keadaan" yang Bisa Hentikan Israel
"Amerika sangat naif jika mereka berpikir Iran akan meninggalkan program nuklirnya dan membatalkannya, dan melepaskan impian mereka untuk menghancurkan Israel," ujar Ben-Gvir. Ia kemudian menambahkan bahwa menjadi tanggung jawab Israel untuk menghadapi ancaman ini dan bertindak sendiri melawannya.
Menteri yang dikenal provokatif itu bahkan menyebut "tidak ada keadaan" yang dapat memaksa Israel untuk bekerja sesuai dengan perintah seorang teman, "bahkan jika teman itu benar-benar hebat." Ucapan ini menandai titik terendah dalam hubungan Washington-Tel Aviv pasca-perang melawan Iran.
Konteks: Gencatan Senjata dan Perjanjian Damai yang Rentan
Ketegangan ini muncul di tengah situasi yang masih cair. AS dan Israel sebelumnya mengobarkan perang skala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu memicu pembalasan Teheran yang menargetkan aset militer AS dan Israel di Timur Tengah. Pertempuran baru terhenti pada 8 April 2026 di bawah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Pada 17 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik. MoU itu dimaksudkan untuk mewujudkan kesepakatan damai abadi. Namun, Ben-Gvir menilai langkah itu sebagai bentuk kenaifan yang berbahaya.
Perselisihan soal Lebanon Memperkeruh Hubungan
Perselisihan antara AS dan Israel juga dipicu oleh serangan Tel Aviv di Lebanon yang menargetkan kelompok Hizbullah. Serangan itu berlangsung saat perundingan damai antara Washington dan Teheran masih berjalan. Sikap Israel yang terus melancarkan operasi militer dianggap mengganggu proses diplomasi yang tengah dibangun AS.
AS dan Israel selama ini menuduh Iran memiliki program nuklir dan rudal yang mengancam stabilitas kawasan. Sebaliknya, Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak berniat mengembangkan senjata pemusnah massal.
Implikasi: Potensi Eskalasi Sepihak di Timur Tengah
Pernyataan Ben-Gvir membuka kemungkinan Israel melancarkan serangan pre-emptif tanpa koordinasi dengan Washington. Jika itu terjadi, gencatan senjata yang rapuh sejak April 2026 bisa runtuh. Kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang konflik terbuka yang lebih luas, dengan Iran dan sekutunya di Lebanon serta Suriah sebagai target potensial.
Belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih atau Kementerian Luar Negeri AS atas pernyataan menteri Israel tersebut. Namun, sumber diplomatik di Washington menyebut pernyataan Ben-Gvir "sangat tidak membantu" dalam upaya stabilisasi kawasan.