KALIMANTAN BARAT — Naval Group, perusahaan pertahanan asal Prancis, secara resmi mengontrak Saft—anak usaha TotalEnergies—untuk memasok sistem penyimpan energi baterai lithium-ion (BESS) pada dua kelas kapal selam nuklir terbarunya. Pengumuman ini dikonfirmasi oleh Saft dan Naval Group melalui rilis yang dikutip Interesting Engineering, menandai babak baru dalam desain kapal selam Eropa yang selama puluhan tahun mengandalkan baterai asam timbal.
Reaktor Nuklir Ternyata Juga Butuh Baterai
Walau digerakkan reaktor nuklir, kapal selam tetap membutuhkan bank baterai besar. Reaktor menghasilkan panas yang memanaskan air menjadi uap, lalu menggerakkan turbin pembangkit listrik. Namun, pada saat kapal harus beroperasi dalam mode senyap, merespons perubahan kebutuhan daya secara cepat, atau menjaga sistem pendukung hidup saat reaktor mati, baterai menjadi sumber listrik utama. Baterai lead-acid yang selama ini digunakan sangat boros ruang dan memberatkan desain lambung.
Saft menawarkan solusi lithium-ion dengan ukuran lebih ringkas namun berkapasitas lebih besar. “Baterai lead-acid memakan banyak volume internal yang sangat berharga,” jelas Cédric Duclos, CEO Saft. “Dengan lithium-ion, arsitek kapal bisa menghemat ruang yang kemudian digunakan untuk meningkatkan kenyamanan kru atau menambah muatan lainnya.”
Kepadatan Energi Ganda, Waktu Menyelam Lebih Panjang
Baterai lithium-ion Saft memiliki kepadatan energi yang secara signifikan lebih tinggi dibanding pendahulunya. Artinya, kapal selam mampu beroperasi lebih lama dengan tenaga listrik tersimpan tanpa harus mengaktifkan reaktor. Kemampuan charging yang lebih cepat juga memberikan fleksibilitas taktis, terutama saat kapal harus kembali ke mode silent running dalam waktu singkat.
Tak hanya performa, aspek keselamatan juga menjadi prioritas. Saft mengklaim sistem baterainya telah dirancang dengan standar keamanan dan keandalan tertinggi untuk lingkungan militer. “Produk kami menetapkan standar baru dalam kepadatan energi, keselamatan, dan keandalan,” tegas Duclos dalam pernyataan resmi.
Lompatan untuk Kemandirian Pertahanan Eropa
Kontrak ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga geopolitik. Di tengah ketidakpercayaan negara-negara Eropa terhadap pemasok pertahanan dari AS, pengembangan baterai lithium-ion buatan sendiri menjadi langkah strategis. “Industri pertahanan Eropa sedang membara karena tak ada yang ingin membeli senjata dari mitra yang tak bisa dipercaya,” tulis seorang komentator dengan nama Spec9 dalam laporan yang sama.
Saft, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pemasok baterai untuk industri otomotif dan dirgantara, kini memperkokoh posisinya di sektor pertahanan maritim. Langkah ini juga memperkuat kedaulatan teknologi Eropa di tengah persaingan global yang semakin ketat.