KALIMANTAN BARAT — Samsung Electronics tengah menjalankan strategi besar untuk mengejar ketertinggalan di industri pengecoran chip (foundry) dari pesaing utamanya, TSMC. Peta jalan produksi mereka kini membentang di dua negara dan empat kampus fabrikasi, dengan fokus utama pada Pyeongtaek di Korea Selatan dan Taylor di Amerika Serikat.
Kabar terbaru, Samsung telah memulai produksi massal proses 2nm generasi pertama (SF2) pada 2025. Perusahaan juga telah memindahkan peralatan ke pabrik Taylor yang sempat tertunda pada April lalu, serta mengamankan kontrak senilai US$16,5 miliar untuk memproduksi chip AI6 milik Tesla. Meski begitu, pendapatan unit foundry Samsung masih tertinggal jauh, dengan rasio sekitar 11:1 dibanding TSMC. Laporan menyebutkan yield 2nm Samsung baru berada di kisaran 55%, di bawah ambang batas yang dibutuhkan untuk meraih profit dari node canggih.
Mengapa Yield 2nm Menjadi Penentu Utama?
Yield adalah persentase chip yang berfungsi baik dari satu wafer silikon. Semakin tinggi yield, semakin rendah biaya produksi per chip. Untuk node canggih seperti 2nm, yield yang rendah berarti biaya produksi membengkak dan margin keuntungan menipis.
Samsung diketahui memangkas harga wafer 2nm hingga sekitar US$20.000, lebih murah 33% dari harga TSMC. Strategi ini memang menarik klien yang sensitif terhadap biaya, namun menekan margin di tengah yield yang belum optimal. Ketua Samsung, Jay Y. Lee, telah menegaskan tidak akan memisahkan unit foundry, dan memilih untuk terus menumbuhkan bisnis ini meski harus menyerap kerugian.
Pabrik Taylor: Andalan Sekaligus Sumber Masalah
Proyek Taylor adalah pusat dari rencana ekspansi Samsung. Total investasi untuk dua pabrik, fasilitas pengemasan canggih, dan pusat R&D di lokasi ini mencapai sekitar US$44 miliar. Pendanaan dari pemerintah AS melalui CHIPS Act juga telah di