Pendanaan REDD+ Rp39 Miliar Dukung Kalimantan Barat Percepat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Penulis: Sutomo  •  Jumat, 30 Januari 2026 | 15:35:03 WIB

Pontianak – Provinsi Kalimantan Barat memperoleh dukungan pendanaan sebesar Rp39 miliar setelah mencatatkan capaian positif dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) yang bersumber dari deforestasi.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, saat memberikan sambutan pada kegiatan Kick Off Program Result Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2 Provinsi Kalimantan Barat yang digelar pada Kamis (29/1).

Ria Norsan menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian Kelompok Kerja REDD+ Kalbar, provinsi ini berhasil menunjukkan kinerja positif penurunan emisi GRK dari deforestasi dalam dua periode pengukuran, dari target alokasi provinsi sebesar 60 persen.

Ia menambahkan, pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2 untuk periode 2014–2016 yang bersumber dari Green Climate Fund merupakan bentuk pengakuan internasional atas capaian Kalimantan Barat dalam pengendalian emisi.

Dana tersebut dikelola secara akuntabel melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan disalurkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sebagai penerima manfaat utama. Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi menunjuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar sebagai penanggung jawab utama program, serta Perkumpulan Bentang Kalimantan Tangguh (BKT) sebagai Lembaga Perantara.

Kepala DLHK Kalbar, Adi Yani, menyampaikan bahwa Kalimantan Barat menjadi salah satu dari 28 provinsi penerima manfaat dana RBP REDD+ GCF dalam Kategori Pemanfaatan II.

Melalui pelaksanaan kick off program ini, Adi Yani berharap terwujud kesamaan persepsi, penguatan kolaborasi, serta komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pengelolaan hutan dan lahan yang berkelanjutan, penguatan tata kelola REDD+, serta perlindungan keanekaragaman hayati.

Selain itu, program ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian penurunan emisi GRK yang terukur, terlaporkan, dan terverifikasi melalui pendekatan pengelolaan lanskap dan seaskap yang inklusif.

Sementara itu, Direktur Perkumpulan Bentang Kalimantan Tangguh (BKT), Anton Priyani Widjaya, menjelaskan bahwa program yang akan dijalankan mengusung fokus pada penguatan dan perluasan dukungan terhadap aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Kalimantan Barat.

Ia menegaskan bahwa program tersebut akan mendorong penguatan serta perluasan aksi mitigasi yang berkontribusi langsung terhadap pencapaian target penurunan emisi GRK sebesar 60 persen.

Reporter: Sutomo
Back to top