Wagub Kalbar Desak Percepatan Pelabuhan Kijing Guna Cegah Kerugian Fiskal

Penulis: Luqman Arif  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 12:40:01 WIB
Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan meninjau Terminal Internasional Kijing sebagai upaya percepatan operasional pelabuhan.

Kalimantan Barat kehilangan potensi pendapatan besar akibat belum optimalnya operasional Terminal Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah. Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan meminta langkah cepat pembenahan akses infrastruktur agar pencatatan komoditas unggulan daerah tidak lagi lari ke luar provinsi.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyoroti ketimpangan antara kekayaan sumber daya alam (SDA) daerah dengan realisasi pendapatan fiskal. Hingga saat ini, banyak komoditas asal Kalbar yang pencatatan ekspornya justru dilakukan di pelabuhan luar daerah, sehingga bagi hasil pajaknya tidak masuk ke kas pemprov.

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyatakan bahwa operasional penuh Terminal Internasional Kijing menjadi kunci untuk menghentikan kebocoran potensi ekonomi tersebut. Menurutnya, pelabuhan ini harus segera berfungsi sebagai pintu keluar utama logistik daerah.

“Kita kehilangan potensi besar. Hasil alam kita tercatat di daerah lain. Ini harus segera kita benahi dengan mengoptimalkan Pelabuhan Kijing,” tegas Krisantus di Pontianak, Rabu (6/5/2026).

Mengapa Pencatatan SDA Kalbar Masih di Luar Daerah?

Belum maksimalnya fungsi Terminal Kijing membuat eksportir masih bergantung pada pelabuhan di provinsi lain. Krisantus menilai, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan aksesibilitas dari sentra produksi menuju dermaga Kijing.

Ia mendesak adanya percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, terutama akses jalan tol dan jalur alternatif yang memadai. Tanpa konektivitas yang mumpuni, efisiensi logistik yang dijanjikan oleh pelabuhan internasional ini sulit tercapai dalam waktu dekat.

Menariknya, Wagub menganggap kepadatan arus kendaraan menuju pelabuhan sebagai indikator pertumbuhan. Jika aktivitas logistik memicu kemacetan, hal itu menjadi alasan kuat bagi pemerintah pusat untuk segera mengucurkan anggaran pembangunan jalan tol.

“Kalau aktivitas tinggi sampai macet, itu artinya ekonomi bergerak. Dari situ pusat akan melihat kebutuhan mendesak untuk memperbaiki akses,” ujarnya menjelaskan logika percepatan infrastruktur.

Nasib Pelabuhan Dwikora dan Tantangan Alur Kapuas

Meski mendorong Kijing, Krisantus mengingatkan agar operasional Pelabuhan Dwikora di Pontianak tidak diabaikan. Pelabuhan lama ini tetap memegang peran krusial untuk distribusi kebutuhan pokok, termasuk pasokan oksigen medis dan bahan bakar minyak (BBM).

Tantangan utama di Pelabuhan Dwikora adalah pendangkalan alur Muara Kapuas yang sering menghambat kapal besar. Oleh karena itu, pembagian beban kerja antara Kijing dan Dwikora harus diatur secara presisi agar distribusi logistik di Kalbar tetap stabil.

Sisi lain yang ditekankan adalah keterlibatan lembaga keuangan lokal. Krisantus mendorong Bank Kalbar untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi pelabuhan. Tujuannya agar perputaran uang dari aktivitas ekspor-impor tetap bertahan di lingkup regional.

Komitmen Pelindo Bangun Ekosistem Industri Terintegrasi

Merespons desakan tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) menyatakan komitmennya untuk mempercepat pengembangan Terminal Kijing sebagai pusat logistik modern. Fokus saat ini adalah membangun ekosistem yang terintegrasi langsung dengan kawasan industri.

Sejumlah fasilitas tambahan kini tengah disiapkan, mulai dari perluasan dermaga hingga pemasangan sistem conveyor untuk mempercepat bongkar muat. Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya logistik darat yang selama ini menjadi beban utama para pelaku usaha.

Dengan integrasi antara pelabuhan dan kawasan industri, Terminal Kijing diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat singgah barang, tetapi juga pusat nilai tambah komoditas ekspor Kalimantan Barat.

Reporter: Luqman Arif
Back to top