Pemprov Kalbar Libatkan Mahasiswa Kehutanan dari 20 Universitas Perkuat Sektor Kehutanan Nasional Lewat KNSI 2025

Penulis: Nurul Huda  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 17:57:02 WIB
Delegasi mahasiswa kehutanan dari 20 universitas berkumpul di Pontianak dalam KNSI 2025.

PONTIANAK — Sebanyak 20 universitas dari seluruh Indonesia mengirimkan delegasi mahasiswa kehutanan dalam Konferensi Nasional Sylva Indonesia (KNSI) yang digelar di Pontianak, Selasa. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mahasiswa untuk mendorong pengelolaan hutan yang ramah lingkungan.

Mengapa mahasiswa kehutanan dilibatkan dalam kebijakan daerah?

Gubernur Kalbar Ria Norsan menegaskan bahwa mahasiswa kehutanan bukan sekadar peserta, melainkan calon rimbawan yang mampu menghadirkan solusi konkret. "Mereka adalah katalisator pelestarian keanekaragaman hayati melalui kolaborasi multi-stakeholder," ujarnya di Pontianak.

Pemprov Kalbar menjadikan forum ini sebagai ruang lahirnya gagasan dan aksi nyata. Targetnya, rekomendasi dari konferensi bisa mendukung Indonesia FOLU Net Sink 2030 — sebuah program ambisius menyerap emisi karbon dari sektor kehutanan.

Apa isi konferensi dan siapa saja yang hadir?

Kegiatan ini dihadiri Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, Sekjen Kementerian Kehutanan Mahfudz, dan Rektor Universitas Tanjungpura Garuda Wiko. Tema utama yang diusung adalah “Sylva Indonesia sebagai Katalisator Pelestarian Keanekaragaman Hayati melalui Kolaborasi Multi-Stakeholder”.

Selain konferensi dan simposium nasional, peserta juga mengikuti kunjungan lapangan. Mereka diperkenalkan dengan kekayaan budaya dan lingkungan Kalimantan Barat — dari hutan tropis hingga kearifan lokal masyarakat adat.

Wamen Kehutanan: Mahasiswa harus jadi SDM unggul dan inovatif

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki berharap Sylva Indonesia menjadi organisasi pembelajar. Ia menyebut Kementerian Kehutanan berkomitmen membantu peningkatan kapasitas mahasiswa.

"Mahasiswa harus terlibat dalam aksi nyata, seperti pendampingan perhutanan sosial, pencegahan dan penanggulangan karhutla, rehabilitasi hutan, hingga upaya konservasi lingkungan," kata Rohmat.

Dampak bagi warga Kalbar dan sektor kehutanan nasional

Pemprov Kalbar menargetkan kolaborasi ini bisa memperkuat pembangunan hijau dan pengelolaan sumber daya alam berwawasan lingkungan. Kalimantan Barat sendiri memiliki hutan tropis yang luas dan kerap menghadapi tantangan kebakaran hutan serta deforestasi.

Dengan keterlibatan mahasiswa, pemerintah berharap muncul inovasi-inovasi baru yang aplikatif. Misalnya, teknologi pemantauan hutan berbasis data atau model perhutanan sosial yang melibatkan masyarakat adat.

Kegiatan KNSI 2025 ini menjadi bukti bahwa Kalbar tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga laboratorium hidup bagi transformasi kehutanan Indonesia.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: kalbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top