JAKARTA — PT PLN (Persero) akhirnya mengonfirmasi penyebab di balik pemadaman listrik massal atau blackout yang terjadi di sebagian besar sistem kelistrikan Sumatera. Peristiwa yang bermula Jumat (22/5) sejak pukul 18.44 WIB itu dipicu oleh cuaca buruk yang mengganggu ruas transmisi listrik.
“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Sabtu.
PLN langsung bergerak melakukan pemeriksaan dan pemulihan begitu gangguan terjadi. Dalam waktu sekitar dua jam, jaringan transmisi yang terganggu berhasil dipulihkan kembali. Fokus utama setelah itu adalah mengoperasikan kembali pembangkit-pembangkit yang terdampak secara bertahap.
“Proses penyalaan pembangkit dilakukan secara sistematis dan bertahap dengan tetap mengutamakan keamanan sistem,” jelas Darmawan. Pembangkit berbasis hidro dan gas menjadi respons cepat untuk mempercepat pemulihan awal, sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama, antara 15 hingga 20 jam untuk start-up hingga beroperasi penuh.
Pemulihan dilakukan secara simultan mulai dari transmisi, gardu induk, hingga pembangkit di sistem kelistrikan Sumatera. Untuk mendukung proses tersebut, PLN menerjunkan ratusan personel yang bekerja 24 jam di berbagai wilayah terdampak. Area yang menjadi prioritas pemulihan meliputi Jambi, Sumatra Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh.
PLN memastikan bahwa sistem kelistrikan Sumatera saat ini telah kembali normal setelah seluruh jaringan transmisi dan pembangkit berhasil diselaraskan. Pihaknya juga menyebut bahwa langkah-langkah pengamanan sistem telah diperkuat untuk mengantisipasi gangguan serupa akibat cuaca ekstrem di masa mendatang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan jika terjadi gangguan listrik di lingkungan masing-masing.