KALIMANTAN BARAT — Lonjakan harga emas Antam terjadi seiring dengan menguatnya harga emas dunia yang menembus level psikologis US$2.400 per troy ons pada perdagangan Jumat malam. Sentimen risk-off melanda pasar global setelah data inflasi Amerika Serikat bulan Mei dirilis lebih tinggi dari ekspektasi, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama. Investor pun berbondong-bondong masuk ke aset safe haven seperti emas.
Antam juga menetapkan harga buyback atau harga jual kembali emas ke pihak Antam sebesar Rp2.462.000 per gram. Angka ini naik Rp11.000 dari level kemarin. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali saat ini berada di kisaran 9,2%, lebih rendah dibanding rata-rata historis yang biasanya mencapai 10-12%.
Selisih yang lebih sempit ini membuat emas Antam semakin menarik bagi investor jangka pendek. Semakin kecil spread, semakin cepat titik impas (break even point) tercapai jika harga emas turun dan investor ingin menjual kembali logam mulianya.
Berdasarkan pantauan di butik emas Antam pusat dan sejumlah gerai mitra di Jakarta, permintaan tertinggi terjadi pada pecahan 1 gram. Beberapa gerai melaporkan stok pecahan tersebut mulai menipis sejak Jumat sore. Seorang petugas di Butik Emas Antam kawasan Graha CIMB Niaga, Jakarta, mengatakan antrean pembeli sudah terlihat sejak pukul 08.00 WIB.
Untuk pecahan lainnya, harga emas Antam hari ini bervariasi: pecahan 5 gram dibanderol Rp12.580.000, pecahan 10 gram Rp24.605.000, dan pecahan 50 gram Rp121.795.000. Sementara itu, emas batangan Antam dengan sertifikat dan kemasan edisi khusus juga ikut naik dengan kisaran yang sama.
Analis komoditas menilai momentum kenaikan harga emas masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Faktor utama yang mendukung adalah pelemahan dolar AS dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda. Namun, investor tetap diminta waspada terhadap potensi koreksi jika data ketenagakerjaan AS pekan depan menunjukkan perbaikan signifikan.
Investasi emas tetap mengandung risiko. Fluktuasi harga bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika sentimen pasar global berbalik arah secara tiba-tiba.