KALIMANTAN BARAT — Data Gaikindo menunjukkan tren positif jangka panjang kendaraan listrik dan hybrid di Indonesia masih utuh, meski terjadi perlambatan signifikan pada Mei 2026. Sepanjang Januari-Mei tahun ini, penjualan mobil listrik murni (BEV) melesat 80 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dari 31.649 unit menjadi 57.087 unit. Segmen hybrid (HEV) juga naik 49,7 persen secara year-on-year menjadi 34.151 unit, sementara PHEV melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi 2.097 unit.
Penjualan Mei Anjlok, Konsumen Tahan Pembelian
Jika dilihat secara bulanan, ceritanya berbeda. Penjualan BEV pada Mei 2026 hanya mencapai 9.290 unit, turun 37,3 persen dari 14.825 unit pada April. Segmen HEV juga terkoreksi dari 8.414 unit menjadi 7.815 unit, dan PHEV menyusut dari 569 unit menjadi 512 unit.
Perlambatan ini tidak lepas dari belum adanya kepastian insentif kendaraan listrik yang sebelumnya direncanakan berlaku mulai Juni 2026. Banyak konsumen memilih wait and see, menunggu keputusan pemerintah soal stimulus yang bisa mempengaruhi harga akhir mobil listrik dan hybrid di Indonesia.
Kontribusi 26 Persen: Pendorong Utama Industri Otomotif Nasional
Meski bulanan melambat, pangsa kendaraan elektrifikasi yang sudah menembus seperempat pasar nasional menjadi sinyal kuat perubahan struktur industri otomotif Indonesia. Dari total 359.015 unit mobil yang terjual di dalam negeri pada Januari-Mei 2026, lebih dari 93.000 unit di antaranya sudah tidak lagi menggunakan mesin bensin murni.
Kenaikan tahunan di semua segmen—terutama BEV yang tumbuh 80 persen dan PHEV yang naik 316 persen—menunjukkan adopsi kendaraan elektrifikasi terus berlanjut meski ada hambatan jangka pendek. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin banyaknya pilihan model dari berbagai merek serta infrastruktur pengisian daya yang mulai merata di kota-kota besar.