KALIMANTAN BARAT — Aliran dana sebesar itu tidak hanya berhenti di kas negara. Sebagian besar nilai ekonomi justru berputar di tingkat lokal melalui keterlibatan pemasok dalam negeri. MIND ID memastikan lebih dari 90 persen pemasok kelompok usahanya berasal dari pelaku usaha lokal dan domestik, mulai dari penyediaan bahan bakar, alat berat, suku cadang, hingga jasa kontraktor dan distribusi.
“Dari sisi rantai pasok dan aspek sosial, kami melihat keterlibatan pemasok lokal dan domestik sangat penting. TKDN menjadi salah satu ukuran pencapaian operasi dan bisnis kami,” ujar Binahidra Logiardi, Division Head of Sustainability MIND ID, dalam keterangan resminya, Selasa (4/8).
Kebijakan ini dirancang agar manfaat pertambangan tidak hanya dinikmati dari hasil penjualan mineral. Dengan melibatkan pengusaha setempat, efek ekonominya terasa hingga ke industri pendukung dan komunitas di sekitar tambang. Wilayah operasi MIND ID sendiri membentang luas, dari Sumatra Utara hingga Papua Tengah.
Keterlibatan pemasok lokal dilakukan menyeluruh, sejak fase eksplorasi hingga pemasaran produk. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat perekonomian daerah sekaligus memitigasi risiko gangguan pasokan dan meningkatkan efektivitas operasional perusahaan.
Bagi MIND ID, kontribusi ini adalah bagian dari mandat sebagai BUMN. Perusahaan tidak hanya berorientasi pada kinerja operasional bisnis, tetapi juga proaktif menjalankan peran sebagai penggerak pembangunan ekonomi nasional.
“Sebagai BUMN, kami adalah agent of development sehingga dampak ekonomi menjadi sangat penting. Kami mendukung program pemerintah untuk mendorong kedaulatan ekonomi nasional,” kata Binahidra.
Capaian ini dirilis dalam Sustainability Report 2025 perusahaan. Laporan tersebut merinci distribusi nilai ekonomi kepada pemasok, karyawan, dan komunitas di luar pembayaran pajak serta dividen kepada pemerintah.
Dengan total kontribusi Rp180,30 triliun, MIND ID menegaskan posisinya sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah kantong tambang. Angka ini sekaligus menjadi indikator bahwa operasi industri ekstraktif dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat sekitar.