KALIMANTAN BARAT — Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG nyaris menyentuh level terendah hariannya di posisi 6.212 pada penutupan perdagangan kemarin. Padahal, indeks sempat mencatatkan level tertinggi intraday di angka 6.273 pada sesi pagi hingga siang hari sebelum akhirnya terkoreksi.
Tekanan jual paling dalam berasal dari sektor teknologi yang ambles hingga 1,51%. Disusul sektor properti yang terkoreksi 0,76% dan sektor energi yang melemah 0,75%. Ketiga sektor ini menjadi pendorong utama laju negatif indeks sepanjang hari.
Dari total perdagangan, sebanyak 348 saham tercatat mengalami pelemahan, sementara 292 saham berhasil menguat. Sisanya, 150 saham, memilih bertahan di posisi stagnan. Hal ini mengindikasikan sentimen negatif masih lebih dominan dibandingkan optimisme pelaku pasar.
Aktivitas perdagangan kemarin tercatat cukup ramai dengan volume mencapai 38,77 miliar saham. Nilai transaksi yang diselesaikan mencapai Rp 14,37 triliun dengan frekuensi sebanyak 2,32 juta kali. Tingginya volume transaksi yang didominasi aksi jual ini menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat dari investor.
Meski demikian, data mengenai aksi investor asing (net buy atau net sell) tidak dirilis dalam laporan perdagangan kemarin. Namun, dominasi aksi jual yang menyebabkan mayoritas saham melemah kerap kali menjadi indikasi awal pelemahan daya beli pasar.
Dengan penutupan di level 6.234, IHSG kini berada di dekat area support psikologis 6.200. Posisi ini menjadi titik krusial bagi pergerakan indeks pada sesi perdagangan hari ini, Selasa (4/8/2026). Jika level tersebut berhasil dipertahankan, bukan tidak mungkin indeks akan mencoba rebound.
Sebaliknya, jika tekanan jual kembali mendominasi dan level 6.200 jebol, potensi koreksi lebih dalam terbuka. Pelaku pasar disarankan untuk mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan harga komoditas global sebagai sentimen eksternal yang turut mempengaruhi laju indeks.
Investasi mengandung risiko. Selalu lakukan analisis Anda sendiri sebelum mengambil keputusan investasi.