PONTIANAK — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Kehutanan menyiagakan dua unit pesawat Cassa guna menyemai bibit awan menjadi hujan di Kalimantan Barat. Operasi modifikasi cuaca ini dijadwalkan berlangsung mulai 4 September 2026 dan akan dioptimalkan hingga batas waktu 13 September 2026.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan, upaya ini ditempuh karena hujan deras dinilai menjadi satu-satunya cara efektif untuk membersihkan polusi udara yang menyelimuti sejumlah kabupaten/kota di Kalbar.
Menurut Suharyanto, penurunan jumlah titik api memang terjadi setelah sejumlah lokasi karhutla berhasil dipadamkan. Namun, kabut asap yang dihasilkan masih bertahan lebih lama dibandingkan biasanya.
"Memang terjadi penurunan, meskipun sangat pekat ini asapnya. Ini bisa selesai nanti kalau setelah datang hujan yang deras," ujar Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Pontianak, Jumat (4/9/2026) malam.
Karakteristik lahan gambut yang dominan di Kalbar membuat material pembentuk asap terus membara di bawah permukaan tanah. Kondisi ini memperpanjang durasi kabut yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalbar pada periode 4-8 September. Potensi ini akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tim gabungan di lapangan.
"Alhamdulillah tadi dengan BMKG ada potensi awan hujan di Kalimantan Barat ini dari tanggal 4 sampai tanggal 8. Tadi Pak Danlanud sudah sepakat, sampai tengah malam pun kalau potensi awan hujan ada, jalan," kata Raja.
Penyemaian garam tidak hanya difokuskan di atas titik api yang masih aktif. Pesawat Cassa juga akan diarahkan untuk menjangkau bibit awan di wilayah lain yang berpotensi menghasilkan hujan.
Target utama OMC kali ini bukan sekadar menghilangkan asap, tetapi juga membasahi lahan gambut yang kering. Dengan meningkatnya tinggi muka air tanah, risiko munculnya titik api baru diharapkan bisa ditekan secara signifikan.
"Di mana pun ada bibit awan, semai. Meskipun tidak langsung terkait dengan lokasi terjadinya karhutla, kita hajar. Pembasahan, meninggikan tinggi muka air tanah, supaya sekali lagi tidak akan terjadi kebakaran," tegasnya.
Raja Juli Antoni menegaskan dukungan penuh pesawat untuk operasi ini tetap disiagakan hingga 13 September 2026. Perpanjangan waktu siaga dilakukan agar setiap peluang terbentuknya awan hujan tidak terlewatkan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap dampak kesehatan akibat kabut asap dan melaporkan potensi kebakaran di lingkungan sekitar kepada petugas terkait.