Perlindungan Anak dari Abu Vulkanik: 7 Langkah Wajib saat Terpaksa Keluar Rumah

Penulis: Nurul Huda  •  Senin, 07 September 2026 | 13:36:01 WIB
Anak-anak mengenakan masker saat melintasi area terdampak abu vulkanik untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.

KALIMANTAN BARAT — Hujan abu tipis yang menyelimuti halaman rumah tentu bikin ibu khawatir, terutama saat anak harus tetap berangkat sekolah atau ikut keluar rumah untuk suatu keperluan. Partikel abu vulkanik yang halus ini bukan sekadar kotoran, ia bisa masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi mata hingga kulit.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa perlindungan ekstra sangat diperlukan dalam situasi ini. Berikut langkah-langkah yang bisa ibu praktikkan untuk meminimalkan risiko paparan abu pada anak.

1. Masker Khusus yang Terpasang dengan Benar

Pastikan anak memakai masker yang mampu menyaring partikel halus, bukan sekadar masker kain tipis. Masker harus menutupi hidung dan dagu dengan rapat tanpa celah di sisi samping.

Sebelum berangkat, ajak anak berlatih menarik napas untuk memastikan ia nyaman dan tidak mudah lepas. Bawa juga masker cadangan di tas anak karena masker yang lembab sebaiknya segera diganti.

2. Kacamata Pelindung untuk Cegah Iritasi Mata

Abu vulkanik yang beterbangan bisa menyebabkan mata perih, merah, dan berair. Gunakan kacamata yang menutup rapat atau minimal kacamata renang untuk anak yang lebih besar.

Ingatkan anak untuk tidak menggosok mata dengan tangan kotor. Jika mata terasa perih setelah beraktivitas, bilas dengan air bersih yang mengalir.

3. Pakaian Tertutup dan Langsung Dibersihkan

Kenakan anak baju lengan panjang dan celana panjang untuk meminimalkan kontak langsung abu dengan kulit. Pilih bahan yang tidak mudah menyerap partikel.

Sesampainya di rumah, jangan biarkan anak duduk di sofa atau kasur dalam kondisi masih penuh abu. Segera lepas pakaian di area luar rumah atau kamar mandi, lalu minta anak untuk mandi dan keramas untuk membersihkan sisa partikel di rambut dan tubuh.

4. Perhatikan Asupan Cairan dan Makanan Bergizi

Paparan polusi dapat membuat tubuh anak bekerja lebih keras, sehingga risiko dehidrasi meningkat. Pastikan anak cukup minum air putih sepanjang hari.

Di samping itu, berikan makanan bergizi seimbang dengan fokus pada sayur dan buah yang kaya antioksidan untuk membantu daya tahan tubuh anak melawan efek buruk paparan abu.

5. Jauhi Pemicu Asma dan Siapkan Obat Rutin

Bagi anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas, kondisi udara yang buruk adalah pemicu utama. Pastikan obat rutin dan inhaler darurat selalu tersedia di dalam tas anak.

Di dalam rumah, hindari paparan asap rokok dan asap dapur. Gunakan pembersih udara (air purifier) jika tersedia untuk menjaga kualitas udara di ruangan tetap baik.

6. Kenali Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Dianggap Remeh

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengingatkan orang tua untuk waspada pada gejala gangguan pernapasan.

"Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima media.

Jangan menunggu gejala memburuk. Batuk yang terus-menerus atau suara napas berbunyi 'mengi' juga menjadi sinyal untuk segera memeriksakan anak ke dokter.

7. Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Jika memang tidak ada keperluan mendesak, langkah paling efektif adalah tetap berada di dalam rumah. Tutup rapat jendela dan pintu selama erupsi masih berlangsung.

Jika anak harus pergi ke sekolah, koordinasikan dengan pihak sekolah mengenai kebijakan pembelajaran jarak jauh atau penyesuaian jam masuk. Komunikasi dengan orang tua murid lain juga membantu untuk saling berbagi informasi terkini.

Menjaga anak di tengah kondisi abu vulkanik memang menuntut kewaspadaan ekstra. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), mengingatkan bahwa tindakan pencegahan hari ini adalah investasi kesehatan anak di masa depan.

"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," tegasnya.

Dengan perlindungan yang tepat, ibu bisa tetap tenang menghadapi situasi ini sambil terus memantau kondisi kesehatan Si Kecil.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top